NEWSFEED.ID, Malang — Keluarga merupakan miniatur negara sekaligus lembaga pendidikan utama tempat anak pertama kali mendapatkan bimbingan dasar untuk mengembangkan potensi alaminya. Komunikasi dalam keluarga, yang melibatkan dimensi emosional dan psikologis yang kompleks, menjadi kunci utama karena kualitas keterbukaan hubungan antara orang tua dan anak berbanding lurus dengan tingkat keberhasilan akademik serta pembentukan sikap belajar yang adaptif.
Penguatan Komunikasi Keluarga terhadap Prestasi Siswa
Kehadiran keluarga yang harmonis, didukung oleh peran sentral ibu sebagai komunikator dan motivator emosional, terbukti mampu meningkatkan disiplin, rasa percaya diri, dan keaktifan siswa di sekolah. Sebaliknya, kurangnya perhatian, sikap acuh tak acuh, maupun disiplin yang berlebihan (over-discipline) dapat memicu dampak negatif seperti perilaku menyimpang, kesulitan bersosialisasi, hingga penurunan prestasi belajar. Oleh karena itu, keharmonisan dan kasih sayang yang tulus dalam keluarga sangat krusial untuk menciptakan suasana rumah yang aman dan kondusif bagi pertumbuhan intelektual anak.
Motivasi belajar, baik yang bersumber dari dalam diri (intrinsik) maupun faktor luar (ekstrinsik), merupakan penggerak utama bagi siswa untuk mencapai prestasi akademik yang maksimal. Dalam hal ini, keluarga berperan fundamental sebagai penyedia rasa aman dan kasih sayang yang mendukung kesiapan mental anak; sebaliknya, kurangnya dukungan atau adanya konflik keluarga dapat menghambat konsentrasi serta kemandirian siswa dalam belajar.
Selain dukungan rumah dan pemberian penghargaan sebagai stimulus, efektivitas komunikasi interpersonal antara guru dan siswa juga menjadi kunci penting. Dengan menerapkan prinsip empati, interaksi dua arah, dan kedekatan emosional, komunikasi yang baik mampu menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, meningkatkan partisipasi aktif, serta mendorong siswa untuk mengoptimalkan seluruh potensi diri demi mencapai tujuan pendidikan.
Dampak Emosional Konflik Keluarga terhadap Psikologis Siswa SMA
Perkembangan emosi merupakan elemen vital bagi kesejahteraan hidup yang dibentuk sejak dini melalui interaksi, teladan, dan bimbingan di dalam keluarga sebagai fondasi pertama. Hal ini menjadi sangat krusial bagi siswa SMA yang sedang berada dalam masa transisi mencari jati diri, di mana mereka sangat membutuhkan kasih sayang serta dukungan orang tua untuk menghadapi fase pertumbuhan yang kompleks.
Sementara lingkungan keluarga yang harmonis akan melahirkan remaja yang sehat secara psikologis, konflik atau ketidakseimbangan di rumah dapat menghambat kemampuan anak dalam mengelola emosi dan berinteraksi sosial. Oleh karena itu, suasana rumah yang stabil dan saling mendukung menjadi kunci utama bagi pertumbuhan emosional serta kemampuan anak dalam memberikan respons positif terhadap pengalaman hidup.
Lingkungan keluarga yang dipenuhi dengan pertikaian, ketiadaan dukungan, atau minimnya pengakuan terhadap perasaan anak dapat menghalangi pertumbuhan emosional mereka. Anak-anak yang tumbuh dalam situasi seperti ini mungkin mengalami kesulitan dalam mengatur emosi mereka secara konstruktif dan bisa menghadapi isu seperti kecemasan, depresi, atau perilaku yang menantang.
Upaya Menciptakan Komunikasi Positif untuk Mendukung Belajar Siswa
Keberhasilan pendidikan sangat bergantung pada pengaturan interaksi yang tepat antara guru, orang tua, dan siswa, di mana citra positif guru di mata orang tua menjadi kunci efektivitas komunikasi. Dalam proses ini, gaya pengasuhan memegang peranan vital; misalnya, pola asuh permisif yang memberikan kebebasan tanpa kendali dapat berdampak pada lemahnya pemahaman anak terhadap norma dan karakter.
Sebagai pilar utama pendidikan, keluarga berfungsi sebagai pembentuk kepribadian, etika, dan moral anak. Oleh karena itu, kondisi emosional serta mental orang tua sangat memengaruhi perkembangan psikologis anak, terutama pada masa remaja yang rentan terhadap ketidakseimbangan emosi, sehingga lingkungan keluarga yang stabil sangat diperlukan untuk mendukung pertumbuhan emosional yang optimal.

Penulis: Alinia Amanda Lestari (202510170110058)
Mahasiswa S1 Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Muhammadiyah Malang









