ArtikelOpini

Pendidikan dan Kearifan Lokal: Jangan Sampai Sekolah Kehilangan Akar

Avatar photo
136
×

Pendidikan dan Kearifan Lokal: Jangan Sampai Sekolah Kehilangan Akar

Sebarkan artikel ini
Seorang Guru Dan Siswa SD. (Farid Candra/Pinterest)

NEWSFEED.ID, Yogyakarta — Di tengah derasnya arus globalisasi dan digitalisasi, pendidikan Indonesia menghadapi tantangan yang kerap luput dari perhatian, hilangnya akar kearifan lokal dalam proses belajar-mengajar. Sekolah semakin modern, kurikulum semakin seragam, namun sering kali semakin jauh dari realitas sosial dan budaya masyarakat tempat peserta didik tumbuh.

Pendidikan sejatinya bukan hanya soal transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga proses pewarisan nilai, identitas, dan kebudayaan. Dalam perspektif sosioantropologi pendidikan, sekolah adalah ruang sosial tempat budaya direproduksi. Ketika kearifan lokal diabaikan, maka pendidikan berisiko melahirkan generasi yang cakap secara akademik, tetapi rapuh secara identitas.

Kearifan lokal seperti nilai gotong royong, musyawarah, adab, dan relasi harmonis dengan alam sebenarnya merupakan modal sosial yang sangat relevan dengan tantangan zaman. Ironisnya, nilai-nilai ini sering dianggap “tidak modern” dan kalah pamor dibanding konsep global yang diadopsi mentah-mentah dari luar. Akibatnya, peserta didik mengenal budaya asing lebih baik daripada tradisi dan nilai di lingkungannya sendiri.

Globalisasi memang tak terelakkan, tetapi pendidikan tidak seharusnya bersifat homogen dan tercerabut dari konteks lokal. Justru di sinilah peran strategis pendidikan: menjadi jembatan antara nilai global dan identitas lokal. Sekolah dapat mengintegrasikan kearifan lokal ke dalam kurikulum, metode pembelajaran, maupun budaya sekolah, tanpa kehilangan daya saing di tingkat global.

Di era Society 5.0, ketika teknologi diposisikan untuk melayani kemanusiaan, pendidikan berbasis kearifan lokal menjadi semakin relevan. Teknologi tanpa nilai hanya akan melahirkan generasi yang efisien, tetapi kehilangan empati dan kebijaksanaan. Sebaliknya, teknologi yang berpijak pada nilai budaya dapat membentuk manusia yang adaptif sekaligus berkarakter.

Sudah saatnya pendidikan Indonesia berhenti sekadar mengejar standar global, dan mulai meneguhkan jati diri melalui penguatan kearifan lokal. Sebab, bangsa yang besar bukanlah bangsa yang meniru sepenuhnya, melainkan bangsa yang mampu berdialog dengan dunia tanpa kehilangan akar budayanya.

Penulis: Vina Tri Apriliani
Mahasiswa Semester 3 Institut Ilmu Al-Qur’an An-Nur Yogyakarta

Editor: Fuad Parhan, Tim NewsFeed.id