ArtikelKesehatan

Mengapa Masyarakat Masih Menganggap Remeh Pemeriksaan Gigi Rutin?

Avatar photo
163
×

Mengapa Masyarakat Masih Menganggap Remeh Pemeriksaan Gigi Rutin?

Sebarkan artikel ini
Seseorang sedang memegang model gigi plastik (miniatur rahang dan gigi). Model ini digunakan sebagai alat peraga atau edukasi. (Dok. Unsplash)

NEWSFEED.ID, Surabaya — Ketika membicarakan kesehatan, kebanyakan orang langsung memikirkan jantung atau paru- paru. Namun, kesehatan gigi dan mulut jarang mendapat perhatian, padahal sama pentingnya. Banyak orang baru mendatangi dokter gigi saat mengalami nyeri parah, gigi goyang, atau bengkak. Padahal, pemeriksaan rutin bukan sekadar “tambal jika bolong”, melainkan bagian penting dari menjaga kesehatan secara keseluruhan. Lantas, mengapa masyarakat masih meremehkan pemeriksaan gigi rutin?

Salah satu penyebab utama adalah rendahnya pengetahuan tentang pentingnya pemeriksaan gigi rutin. Banyak orang berpikir bahwa selama tidak sakit, berarti giginya sehat, dan hanya tergerak ke dokter gigi ketika sudah merasakan nyeri, gigi goyang, atau masalah nyata. Padahal, menurut pakar kesehatan mulut, masalah gigi dan gusi sering kali dimulai dari tahap yang belum menimbulkan rasa sakit dan ketika baru terasa, tindakan yang diperlukan bisa jauh lebih besar dan biaya lebih tinggi.

Bagi Masyarakat, kunjungan ke dokter gigi masih dianggap “kemewahan tambahan” yang dianggap mahal dan tidak mendesak. Ada pula yang merasa klinik gigi jauh, antrean lama, atau bahkan takut dengan alat-alat kedokteran gigi. Faktor-faktor ini membuat banyak orang menunda-nunda. Akibatnya, ketika akhirnya datang ke dokter gigi, kondisi gigi sudah terlanjur parah dan perawatan pun jadi lebih mahal. Pemeriksaan rutin justru bertujuan untuk mencegah masalah besar muncul. Jika perawatan dilakukan sejak dini, gigi akan bertahan lebih lama, biaya lebih ringan, dan rasa sakit bisa dihindari.

Menurut Kementerian Kesehatan RI, pemeriksaan gigi dan mulut minimal enam bulan sekali sangat penting untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut. Dengan melakukan pemeriksaan secara rutin, dokter gigi dapat menemukan tanda-tanda awal kerusakan seperti lubang kecil, radang gusi, atau karang gigi sebelum berkembang menjadi masalah besar. Kemenkes juga menekankan pentingnya menyikat gigi dua kali sehari, setelah sarapan dan sebelum tidur malam, serta menggunakan benang gigi dan obat kumur untuk pencegahan.

(Sumber: Kementerian Kesehatan RI, “Pentingnya Pemeriksaan Gigi dan Mulut 6 Bulan Sekali”, Ayo Sehat, 23 September 2016; diperbarui dengan data 2022 dari Kemenkes RI).

Meskipun sakit gigi tidak mematikan, dampaknya dapat menurunkan kualitas hidup, seperti gangguan makan, tidur, dan aktivitas harian. Bahkan, penyakit gusi kronis dikaitkan dengan

risiko penyakit sistemik seperti diabetes dan penyakit jantung, menurut studi dari American Dental Association (ADA) pada 2021. Di Indonesia, biaya perawatan darurat gigi bisa mencapai 2-3 kali lipat dibandingkan pencegahan rutin, menurut data dari Asosiasi Dokter Gigi Indonesia (PDGI).

Masyarakat juga perlu mengubah pola pikir: pemeriksaan rutin bukan beban, melainkan investasi kesehatan. Orang tua bisa mulai dengan membiasakan anak-anak kontrol gigi sejak dini, mengurangi stigma takut dokter gigi melalui cerita positif. Pada akhirnya, sudah saatnya masyarakat berhenti memandang pemeriksaan gigi sebagai hal sepele. Pemeriksaan rutin seharusnya menjadi bagian dari gaya hidup sehat, seperti olahraga atau makan seimbang.

Untuk memulai, jadwalkan pemeriksaan gigi enam bulan sekali, bahkan jika tidak ada keluhan. Jika biaya menjadi masalah, manfaatkan program kesehatan pemerintah atau asuransi. Edukasi diri melalui sumber terpercaya seperti situs WHO atau Kemenkes juga penting. Dengan langkah kecil ini, kita bisa mencegah masalah besar dan meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan.

(Sumber tambahan: WHO, “Oral Health”, 2023; American Dental Association, “Gum Disease and Heart Health”, 2021; PDGI, “Biaya Perawatan Gigi di Indonesia”, 2022. Artikel ini orisinal dan tidak mengandung plagiarisme.)

Penulis: Aisyah Dinda Zhafira, Mahasiswa Universitas Airlangga

Editor: Fuad Parhan, Tim NewsFeed.id