ArtikelOpini

Dampak Penerapan Full Day School terhadap Efektivitas Belajar Siswa Sekolah Menengah Atas

Avatar photo
132
×

Dampak Penerapan Full Day School terhadap Efektivitas Belajar Siswa Sekolah Menengah Atas

Sebarkan artikel ini
Suasana ruang kelas yang mulai gelap saat aktivitas belajar-mengajar berlangsung hingga sore hari.

NEWSFEED.ID, Malang — Pendidikan adalah aspek fundamental dari suatu negara. ketika Pendidikan di suatu negara rendah akan mempengaruhi kualitas SDM. Salah satu cara meningkatkan kualitas pendidikan adalah melalui penerapan sistem pendidikan full day school. Sistem pendidikan yang berlangsung sepanjang hari adalah sebuah pendekatan yang menyatukan kurikulum dengan waktu sekolah yang lebih lama. Salah satu kebijakan dalam pendidikan di Indonesia adalah sekolah seharian penuh, di mana pelajar harus belajar dari pagi hingga sore, yaitu dari pukul 06. 45 sampai 15. 00 (Pebriana, 2024).

Sistem pendidikan dengan jam sekolah penuh mulai diterapkan secara luas di Indonesia pada tahun 2017. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2000 mengenai PROPENAS, ada tiga tantangan utama dalam bidang pendidikan di Indonesia, yaitu: mempertahankan pencapaian yang sudah diraih, menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas dan mampu bersaing, serta meningkatkan kualitas pendidikan secara keseluruhan.

Kebijkan Sistem Pendidikan Sepeti Full Day School masih menjadi kontroversial, dan memperlukan diskusi lebih mendalam untuk mengetahui secara nyata dampak dari hasil belajar Siswa Sekolah Menengah Atas. Penerapan Full Day School tersebut terdapat dua pandangan yaitu pro dan kontra. Disisi pendukungnya berargumen bahwa sistem tersebut dapat meningkatkan akademik siswa di karenakan durasi di sekokah yang lebih Panjang. Namun, Disi kontranya berargumen bahwa sistem tersebut cenderung menyebabkan kelelahan kontra produktif.

Kontroversi tersebut muncul dari penerapan Sekolah Sehari Penuh secara luas di Indonesia sejak tahun 2017, sebagai upaya untuk mengatasi masalah pendidikan nasional seperti peningkatan kualitas sumber daya manusia, sesuai dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pendukung menganggapnya sebagai cara ampuh untuk memperkuat pemahaman pelajaran melalui kegiatan tambahan seperti bimbingan remedial dan pengayaan, yang telah terbukti meningkatkan nilai rata-rata ujian di sejumlah sekolah percontohan.

Di sisi lain, kritik muncul dari pengamatan lapangan yang menunjukkan kelelahan siswa akibat jadwal yang berlangsung hingga pukul 15.00 atau lebih, yang mengurangi kesempatan untuk istirahat dan interaksi sosial, berpotensi menurunkan motivasi belajar dan hasil jangka panjang. Survei oleh Kementerian Pendidikan menunjukkan bahwa 60% siswa Sekolah Sehari Penuh melaporkan penurunan kualitas tidur, yang berdampak pada fokus mereka di kelas.

Dampak Positif dan Negatif Full Day School Terhadap Efektivitas Belajar Siswa Sekolah Menengah Atas

Efektivitas belajar bertujuan untuk mengetahui apakah sistem Pendiidkan tersebut berjalan dengan maksimal atau tidak, Full Day School memiliki dampak positif dan negative. Khoerunisa et al. (2022) menjelaskan bahwa Efektivitas pemebelajaran bergantung pada tanggung jawab dan kemampuan instruktur, peran pelatih saat menjalankan tugasnya, kerjasama anatara instruktur dan staff sekolah, fungsi pelatih di lingkungan kerja, dan jenjang Pendidikan sekolah. Full Day School menyebabkan siswa lebih bisa mengenal guru dan teman – teman di sekolah dan akan berdampak dengan keberhasilan belajar.

Menurut Ningsih dan Hidayat (2022), sistem sekolah sehari penuh didasarkan pada tiga alas an utama. Pertama, sistem tersebut bertujuan untuk mengurangi dampak negative lingkungan eksternal terhadap anak-anak setelah jam sekolah. Kedua, dengan memperpanjang jam sekolah dari pagi hari hingga terbenam nya matahari. siswa didorong untuk lebih focus pada pelajaran mereka, sehingga menigkatkan efektivitas dan efisiensi pembelajaran. Ketiga, sistem tersebut memberikan dukungan bagi orang tua, terutama mereka yang memiliki jadwal kerja yang padat. Walaupun sistem Pendidikan full day school memiliki banyak dampak positif tapi tidak dapat dipungkiri bahwa sistem tersebut juga memiliki dampak negative. Dampak negatifnya yaitu siswa menjadi tidak bisa mengasah hobi minat dan bakat, dikarenakan kurangnya waktu untuk mengekspor potensi didalam diri mereka, padahal kecerdasan manusia banyak macam nya yaitu, Kecerdasan bahasa, kecerdasan logika dan matematika, kecerdasan visual dan ruang, kecerdasan gerak tubuh, kecerdasan musik, kecerdasan sosial, kecerdasan diri sendiri.

Ningsih dan Hidayat (2022) menjelaskan bahwa dampak negative nya adalah siswa sering merasa kelelahan karena jadwal belajar yang padat. Kedua, interaksi social dengan lingkungan rumah menjadi terbatas karena mereka menghabiskan sebagian besar waktu di sekolah. Akibatnya, para siswa kesulitan untuk beraktivitas dengan bebas sepulang sekolah karena keterbatasan waktu.

Penerapan sistem sekolah seharian penuh masih menghadapi berbagai tantangan, terutama terkait hal manajemen waktu dan menjaga keseimbangan antara kegiatan sekolah dan waktu istirahat siswa (Yuliana, 2024). Jika jadwal belajar terlalu padat dan waktu istirahat tidak memadai, siswa rentan terhadap kelelahan fisik dan mental, Akhirnya dapat mengurangi motivasi dan kualitas belajar mereka. Sekolah harus merencanakan manajemen waktu yang lebih seimbang, seperti menyesuaikan jadwal, menyediakan waktu istirahat yang cukup, dan memasukkan lebih banyak kegiatan santai untuk mencegah siswa cepat bosan selama seharian penuh di sekolah.

Dengan lebih banyak nya waktu di sekolah, siswa lebih menghabiskan lebih sedikit waktu di rumah. tersebut akan berpotensi kurangnya komunikasi dengan keluarga, teman luar sekolah dan aktivitas pribadi.

Pengaruh Full Day School Terhadap Pola Tidur Siswa Sekolah Menengah Atas

Ketika sistem Full Day School diterapkan siswa harus menyeimbangkan ritem jam tidur dan belajar. Terkadang siswa masih sulit untuk menyeimbangkan kedua waktu tersebut Sekolah yang menerapkan sistem Pendidikan sehari penuh mempunyai tiga factor yang dapat dijelaskan terkait penerapan kebijakan tersebut salah satu nya adalah factor jasmaniah yang berarti jika kesehatan fisik seseorang terganggu, proses belajarnya juga akan terganggu. Jika tubuhnya lemah kekurangan darah atau indra serta fungsi tubuh lainya terganggu ia akan mudah merasa lelah, kurang bersemangat, dan mengantuk.

Tidur adalah aktivitas harian yang dilakukan manusia untuk mengatasi kelelahan dan memberikan istirahat yang cukup bagi tubuh (Monifa, Herlinawati, & Arifandi, 2022). Aktivitas tersebut tidak hanya memulihkan energi fisik tetapi juga memperkuat fungsi otak seperti fokus dan daya ingat, yang sangat penting untuk keberhasilan akademik siswa. Jika durasi tidur berkurang karena beban belajar yang berlebihan, risiko kelelahan dan ketidakseimbangan antara belajar dan istirahat meningkat, seperti yang dibuktikan dengan penurunan konsentrasi sebesar 35% ketika siswa yang tidur kurang dari 6 jam

Sistem sekolah seharian penuh di tingkat sekolah menengah atas sering mengganggu pola tidur siswa karena jadwal yang panjang hingga sore hari, ditambah dengan beban pekerjaan rumah yang memicu kelelahan parah. Akibatnya, siswa mungkin tertidur lebih awal tanpa aktivitas positif lainnya atau bahkan begadang untuk menyelesaikan pekerjaan rumah. Sebagian besar siswa sekolah seharian penuh hanya mendapatkan 5-6 jam tidur per malam, lebih sedikit daripada siswa sekolah setengah hari, Akhirnya menyebabkan efisiensi tidur yang rendah (65-74%) dan peningkatan stres terkait akademik. Studi tersebut menunjukkan bahwa tanpa perubahan jadwal, kebijakan tersebut berisiko mengurangi kualitas tidur dan konsentrasi belajar siswa hingga 35%.

Herza Netti dan Hidayati (2023) berpendapat bahwa kebijakan Full day school, memiliki Tiga faktor yang dapat dijelaskan oleh penerapan kebijakan tersebut salah satu nya merupakan faktor jasmaniah yang berarti Jika kesehatan fisik seseorang terganggu, proses belajarnya juga akan terganggu. Jika tubuhnya lemah, kekurangan darah, atau indra serta fungsi tubuh lainnya terganggu, ia akan mudah merasa lelah, kurang bersemangat, dan mengantuk.

Menurut Lotulung & Kasingku (2024), kurang tidur dapat berdampak negatif terhadap kesehatan seseorang. Kurang tidur dapat mengganggu fungsi motorik, melemahkan sistem kekebalan tubuh, memicu perubahan fisik, dan mengganggu kemampuan berpikir. Situasi tersebut berisiko mengurangi konsentrasi, produktivitas, dan prestasi akademik, serta mengganggu keseimbangan antara beban kerja akademik dan kebutuhan istirahat.

Dampak negatifnya meliputi penurunan fokus belajar, peningkatan tingkat stres, dan masalah emosional seperti kelelahan berkepanjangan. Kurangnya waktu untuk berolahraga atau interaksi sosial menyebabkan pola tidur yang tidak stabil, yang dapat mengakibatkan gangguan kesehatan yang serius, seperti insomnia atau melemahnya sistem kekebalan tubuh. Kondisi tersebut diperparah oleh kecenderungan untuk menggunakan perangkat elektronik hingga dini hari.

Upaya Peningkatan Risiko Kejenuhan dan Gangguan Keseimbangan Belajar– Istirahat

Keberhasilan proses pengajaran dan pembelajaran dipengaruhi oleh berbagai faktor yang berawal dari dalam diri siswa yaitu: (1) kemampuan siswa untuk memahami materi pelajaran yang cocok dengan tahap perkembangan siswa itu, (2) rasa motivasi untuk belajar yang besar , (3) antusiasme para siswa saat menyerap pelajaran di sekolah (4) perhatian yang terfokus, dan (5) pandangan bahwa belajar merupakan kebutuhan sepanjang proses Pendidikan, efektivitas pembelajaran siswa di sekolah juga ditentukan oleh pendekatan pengajaran guru, yang memengaruhi gaya belajar dan motivasi siswa (Hamalik, 2014 dalam Margawati, M., Nurhidayatullah, D., & Salmiati, S. (2022)

Kelelahan yang disebabkan oleh proses pembelajaran dapat berdampak negative untuk kesehatan fisik dan psikologis siswa, seperti mengurangi antusiasme mereka untuk belajar dan prestasi akademik (Mu & Guo, 2022). Kelelahan yang berkepanjangan membuat siswa sulit berkonsentrasi, sering merasa mengantuk di kelas, dan kurang responsif terhadap penjelasan guru. Untuk jangka panjang, hal tersebut dapat mengganggu keseimbangan antara waktu belajar dan istirahat, sehingga meningkatkan kemungkinan kebosanan belajar

Masalah kelelahan (burnout) tersebut bukan sekadar kegagalan pribadi terkait manajemen waktu, melainkan sinyal kuat dari sistem pendidikan yang kaku yang terlalu menekankan hasil akhir. Kurikulum yang terlalu padat, ekspektasi nilai sempurna, dan budaya kompetitif yang tidak seimbang sering mengabaikan batasan kemampuan kognitif dan emosional siswa. Ketika sistem terus menuntut lebih banyak tanpa memberikan ruang yang cukup untuk istirahat dan pengembangan diri, kelelahan bukanlah peristiwa luar biasa melainkan konsekuensi alami dari tekanan yang tidak berkelanjutan. Upaya untuk mengatasi kelelahan akademis akan tidak efektif jika hanya mengandalkan “saran dan kiat” bagi siswa.

Burnout bisa di selesaikan melalui berbagai pendekatan, seperti menarik minat siswa, menggunakan humor, mengadakan kegiatan belajar di luar kelas, menerapkan beragam strategi belajar, mengatur posisi tempat duduk di kelas, dan Memberikan berbagai bentuk rangsangan supaya siswa tetap bersemangat dan tidak mudah bosan selama proses belajar. Pandangan tersebut juga didukung oleh hasil penelitian Mutafaridho dan Purwowidodo (2024), yang mengungkapkan bahwa pendekatan pengajaran guru yang kreatif dan beragam memainkan peran penting terhadap mengurangi tingkat kejenuhan belajar siswa.

Para pendidik juga harus meningkatkan keterampilan mereka untuk memanfaatkan teknologi digital untuk meningkatkan keterlibatan dan motivasi siswa selama proses belajar berlangsung. Hal itu sangat krusial bagi pendidik, khususnya di Indonesia., di mana profesionalisme mereka masih rendah, karena banyak yang memandang pekerjaan mereka sebagai tugas sederhana yang semata-mata bertujuan untuk mendapatkan uang (Kurniawati, 2022)

Variasi metode merupakan strategi kunci untuk mengatasi kebosanan dengan mengubah rutinitas belajar yang monoton menjadi lebih dinamis dan interaktif. Misalnya, menggunakan teknik Pomodoro, yang membagi Sesi pembelajaran dilakukan selama 25 menit, diikuti dengan jeda 5 menit, yang dapat meningkatkan fokus dan efisiensi siswa.Memanfaatkan video pembelajaran, diskusi kelompok kecil, dan aktivitas kelas di luar ruangan dapat menyegarkan pikiran siswa dan menjaga antusiasme mereka, mencegah kelelahan mental.

Pelaksanaan sistem Sekolah Sepenuh Hari di tingkat sekolah menengah atas memiliki implikasi kompleks terhadap efisiensi belajar siswa dan pola tidur. Di satu sisi, sistem tersebut dapat meningkatkan kualitas pendidikan dengan meningkatkan jam belajar, memberikan bimbingan mendalam, dan memperkuat hubungan akademik antara guru dan siswa. Lingkungan sekolah yang diawasi juga dapat meminimalkan pengaruh eksternal dan memberikan dukungan bagi orang tua yang sibuk bekerja.

Namun, di sisi lain, jam belajar yang ekstrem, tugas yang menuntut, dan ketidakseimbangan antara belajar, istirahat, dan aktivitas pribadi dapat menyebabkan kelelahan fisik dan mental, penurunan kualitas tidur, dan berkurangnya kesempatan bagi siswa untuk mengeksplorasi hobi dan potensi di luar bidang akademik. Hal tersebut berpotensi menyebabkan penurunan fokus, peningkatan stres emosional, dan kebosanan terhadap belajar, yang akhirnya menghambat pencapaian tujuan pendidikan.

Kebijakan Sekolah Sehari Penuh hanya akan berhasil jika didukung oleh manajemen waktu yang cerdas, pendekatan pengajaran yang inovatif, perhatian yang cermat terhadap kesejahteraan fisik dan psikologis siswa, dan kolaborasi erat antara sekolah, guru, siswa, dan orang tua untuk menjaga keseimbangan antara beban kerja akademik dan kebutuhan akan istirahat dan pengembangan pribadi.

Oleh karena itu, penerapan sekolah sepanjang hari seharusnya tidak kaku, melainkan dioptimalkan melalui manajemen waktu yang seimbang, pengembangan metode pengajaran baru seperti Teknik Pomodoro atau penggunaan teknologi digital, dan kerja sama yang erat antara sekolah, guru, dan orang tua. Tanpa penyesuaian ini, kebijakan yang bertujuan menghasilkan tenaga profesional yang berkualitas justru dapat menghambat perkembangan siswa secara keseluruhan. Diharapkan pemerintah akan melakukan peninjauan komprehensif agar pendidikan menjadi investasi berkelanjutan bagi generasi mendatang.

Selain itu, penguatan kurikulum sekolah sepanjang hari perlu mencakup aspek pengembangan karakter dan pengajaran keterampilan hidup, seperti pelatihan manajemen stres dan kegiatan ekstrakurikuler yang fleksibel, untuk mencegah kelelahan siswa. Penelitian menunjukkan bahwa metode pengajaran kreatif, termasuk penggunaan humor dan diskusi kelompok, dapat mempertahankan motivasi belajar yang tinggi bahkan dalam jadwal yang padat. Oleh karena itu, upaya ini memiliki potensi optimal jika tidak hanya berfokus pada prestasi akademik tetapi juga pada keseimbangan secara keseluruhan.

Penulis: Adelia Savika Dewi
Mahasiswa S1 Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Muhammadiyah Malang

Editor: Fuad Parhan, Tim NewsFeed.id