NEWSFEED.ID, Malang — Fenomena pinjaman online yang ilegal menjadi semakin mengkhawatirkan seiring dengan cepatnya perkembangan teknologi digital yang memudahkan akses ke layanan keuangan berbasis aplikasi. Banyak orang tidak mampu menilai risiko yang tersembunyi di balik kemudahan pengajuan pinjaman digital akibat rendahnya pemahaman tentang keuangan, sehingga berpotensi terjerat dalam skema pembiayaan yang merugikan. Menurut (Sujatmiko dan Kausar 2025) menekankan bahwa pengetahuan finansial yang memadai sangat penting agar individu dapat menilai keuntungan dan risiko sebelum menggunakan layanan keuangan digital, termasuk pinjaman online. Kondisi tersebut menegaskan pentingnya edukasi keuangan dalam membantu masyarakat mengambil keputusan finansial yang lebih aman dan rasional.
Beberapa komunitas menunjukkan reaksi yang positif setelah menerima edukasi langsung tentang literasi keuangan digital. Menurut (Amalina, Erikawati, Roffifudin, Arum, dan Miyanti 2023) menyatakan bahwa edukasi berbasis komunitas mampu meningkatkan kewaspadaan individu dan membantu menghindarkan masyarakat dari praktik pinjaman online ilegal. Pengetahuan keuangan yang meningkat membantu masyarakat mengembangkan sikap kritis terhadap tawaran pinjaman yang memiliki proses cepat dan syarat yang tidak jelas. Oleh karena itu, peningkatan literasi keuangan merupakan langkah strategis dalam pendidikan ekonomi untuk meningkatkan kesadaran orang-orang dan mengurangi risiko penyalahgunaan layanan keuangan digital.
Program edukasi keuangan yang terencana, sistematis, dan berkelanjutan berfungsi untuk membentuk pola pikir kritis, sikap hati-hati, dan perilaku finansial yang bertanggung jawab. Edukasi keuangan berperan dalam membantu masyarakat mengenali legalitas dan kredibilitas penyedia pinjaman online, memahami mekanisme bunga, denda, serta biaya tersembunyi, dan menilai apakah suatu produk keuangan sesuai dengan kebutuhan serta kemampuan ekonomi pengguna. Dukungan dari pemerintah, institusi pendidikan, dan otoritas jasa keuangan melalui regulasi yang tegas dan integrasi literasi keuangan dalam pendidikan ekonomi dapat memperkuat upaya pencegahan, mengurangi praktik eksploitasi finansial, dan mendorong terciptanya ekosistem keuangan digital yang aman, inklusif, serta berkelanjutan.
Peran Pendidikan Ekonomi dalam Mengurangi Risiko Pinjol Ilegal
Perkembangan teknologi informasi serta internet telah mendorong terjadinya perubahan besar dalam cara masyarakat berinteraksi dengan layanan keuangan digital. Layanan pinjaman daring atau Peer-To-Peer (P2P) lending tumbuh dengan cepat sebagai bagian dari inovasi teknologi finansial yang menggunakan platform digital untuk menghubungkan pemberi dana dan peminjam secara langsung (Putri Maulida, 2023). Penyebaran infrastruktur internet yang lebih merata mempercepat layanan pinjaman daring hingga ke daerah yang sebelumnya sulit mengakses lembaga keuangan resmi. Prosedur pengajuan yang cepat, syarat yang tidak rumit, dan pencairan dana tanpa jaminan menjadikan pinjaman daring pilihan menarik bagi banyak orang. Selain itu, platform pinjaman daring juga memberikan integrasi dengan sistem pembayaran digital, notifikasi jatuh tempo secara otomatis, dan sistem pemantauan transaksi yang mendukung pengelolaan pinjaman yang lebih efisien dan transparan (Pardosi dalam Putri Maulida, 2023).
Transformasi digital dalam bidang keuangan juga menghasilkan beragam produk fintech yang menawarkan kecepatan, kemudahan, dan efisiensi layanan. Layanan P2P lending menggunakan teknologi untuk penilaian kredit berbasis algoritma, verifikasi identitas digital, pemrosesan otomatis aplikasi, serta pemantauan pembayaran secara real-time. Pemanfaatan teknologi tersebut membantu memperluas akses layanan keuangan bagi kelompok yang sebelumnya tidak terjangkau perbankan tradisional, sehingga menciptakan lebih banyak peluang ekonomi dan mendorong pemerataan layanan keuangan (Septian, 2024). Digitalisasi layanan keuangan juga meningkatkan fleksibilitas dalam bertransaksi serta mempercepat aliran dana dalam aktivitas ekonomi masyarakat.
Kemampuan literasi keuangan digital kini menjadi semakin krusial sejalan dengan cepatnya perkembangan teknologi finansial yang mempengaruhi cara masyarakat mengakses layanan keuangan berbasis digital. Rendahnya tingkat literasi keuangan mengakibatkan banyak orang tidak memahami sepenuhnya mengenai bunga, biaya administrasi, denda keterlambatan, sistem penagihan, serta konsekuensi hukum dari perjanjian pinjaman digital. Kurangnya pemahaman terhadap aspek-aspek tersebut berpotensi menimbulkan berbagai masalah finansial, seperti penumpukan utang, ketidakseimbangan dalam pengelolaan keuangan pribadi, tekanan psikologis, serta dampak sosial akibat ketidakmampuan memenuhi kewajiban pembayaran (Sandri et al., 2023).Mahasiswa, sebagai kelompok usia produktif yang sedang beralih ke kemandirian finansial, memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap tawaran pinjaman daring yang menjanjikan kemudahan dan kecepatan pencarian dana.
Sedikitnya pemahaman tentang perencanaan keuangan, pengelolaan utang, dan penilaian risiko terkait keuangan digital meningkatkan kemungkinan terjerat dalam praktik pinjaman daring yang merugikan. Ketidakmampuan dalam mengelola pendapatan, membedakan antara kebutuhan dan keinginan, serta merencanakan keuangan jangka panjang berkontribusi pada keputusan finansial yang tidak rasional. Kondisi tersebut menekankan pentingnya pengembangan program literasi keuangan yang mampu memberikan pemahaman mendalam mengenai pengelolaan keuangan pribadi serta berbagai risiko yang terkait dengan layanan keuangan digital.
Peningkatan literasi keuangan di lingkungan akademik bisa dilakukan melalui program edukasi yang terprogram dan berkelanjutan. Kegiatan pelatihan literasi keuangan digital, penyediaan modul pembelajaran, serta sosialisasi mengenai pengelolaan keuangan yang sehat adalah kunci untuk meningkatkan pemahaman tentang cara kerja pinjaman daring, struktur bunga, biaya tersembunyi, serta konsekuensi hukum yang mungkin timbul. Literasi keuangan digital juga mencakup pemahaman tentang perencanaan anggaran, pengelolaan arus kas, penggunaan dana secara efektif, dan kemampuan untuk mengevaluasi berbagai produk keuangan berbasis teknologi (Kornitasari, 2023).
Menurut Kornitasari (2023), pendidikan dan pemahaman tentang keuangan sangat penting untuk membantu individu dan keluarga mengerti risiko yang ada dalam menggunakan layanan pinjaman online. Mengetahui hak serta tanggung jawab sebagai konsumen, tanda-tanda pinjaman online yang legal, dan kemungkinan dampak buruk dari pinjol ilegal dapat meningkatkan kemampuan orang dalam membuat keputusan finansial yang cermat. Meningkatnya pemahaman tentang keuangan dapat mengurangi ketergantungan terhadap pinjaman online, terutama yang tidak terdaftar dan tanpa pengawasan resmi.
Pemahaman keuangan juga sangat berhubungan dengan pembentukan perilaku keuangan yang bijaksana dan bertanggung jawab. Menurut Sjahruddin et al. (2023) menyatakan bahwa pengetahuan tentang keuangan memperkuat pengaruh sikap, norma pribadi, dan persepsi kendali terhadap harapan individu dalam berinvestasi. Memiliki pengetahuan keuangan yang cukup membantu untuk lebih memahami risiko dan keuntungan, sehingga keputusan keuangan yang dibuat menjadi lebih terarah dan fokus pada jangka panjang. Pendidikan keuangan tidak hanya meningkatkan rasa percaya diri dalam mengatur keuangan, tetapi juga membentuk perilaku finansial yang lebih terencana dan berkelanjutan.
Perkembangan teknologi digital juga memerlukan peningkatan pemahaman tentang keuangan digital sebagai respon terhadap perubahan dalam sistem keuangan yang modern. Penelitian oleh Amalina dkk. (2023) menjelaskan bahwa literasi keuangan digital sangat berperan dalam menghindarkan masyarakat dari pinjaman online yang ilegal. Memahami cara kerja platform digital, risiko dalam transaksi online, dan tanda-tanda legalitas penyelenggara pinjaman online dapat membantu masyarakat untuk lebih berhati-hati sebelum membuat keputusan finansial. Pengetahuan tentang keuangan digital juga membantu meningkatkan kewaspadaan terhadap penipuan, penyalahgunaan data pribadi, serta skema pinjaman yang merugikan.
Pengawasan dan regulasi terhadap penyelenggara fintech juga menguatkan efektivitas pendidikan keuangan. Penegakan undang-undang terhadap pinjaman online ilegal, pemblokiran platform yang tidak memiliki izin, dan peningkatan transparansi informasi produk keuangan dapat melindungi konsumen dengan lebih baik. Program literasi keuangan yang mendapatkan dukungan dari regulasi yang kuat meningkatkan pemahaman tentang cara mengajukan komplain, hak-hak konsumen, serta tanggung jawab pengguna layanan keuangan digital (Sonnia, 2022). Kerjasama antara pendidikan, regulasi, dan pengawasan menciptakan ekosistem digital yang lebih aman dan berkelanjutan.
Peningkatan pemahaman tentang keuangan digital berperan dalam menciptakan budaya keuangan yang sehat. Memiliki pemahaman yang mendalam tentang pengelolaan keuangan pribadi, manajemen risiko utang, menabung, dan investasi akan membantu membuat keputusan keuangan yang lebih bijak. Penggunaan layanan pinjaman online secara bijak dan produktif dapat meningkatkan akses terhadap pembiayaan, mendukung kegiatan bisnis, dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Oleh karena itu, pengelolaan keuangan digital yang dilandasi dengan pemahaman yang baik tentang keuangan sangat penting untuk menciptakan stabilitas ekonomi pada tingkat individu, keluarga, dan masyarakat secara berkelanjutan.
Peluang Pengembangan Program Edukasi Keuangan dalam Pencegahan Pinjol Secara Ilegal
Materi mengenai sosialisasi pinjaman online ilegal (pinjol ilegal) menggarisbawahi pentingnya manajemen keuangan keluarga sebagai langkah preventif yang mendasar. Sering kali, kurangnya pengetahuan tentang perencanaan keuangan mendorong keluarga untuk membuat keputusan finansial secara serampangan saat menghadapi kebutuhan mendesak. Keadaan tersebut membuat pinjol ilegal dipandang sebagai pilihan utama karena menawarkan proses yang cepat dan tanpa persyaratan yang rumit. Menurut (Sonnia 2022) menyatakan bahwa lemahnya pengelolaan keuangan rumah tangga berkontribusi besar pada meningkatnya ketergantungan masyarakat terhadap pinjaman berbunga tinggi, termasuk pinjaman online ilegal. Oleh karena itu, meningkatkan manajemen keuangan keluarga dilihat sebagai solusi strategis untuk membangun ketahanan finansial dan mengurangi risiko terjebak dalam praktik pinjaman yang merugikan.
Manajemen keuangan yang baik dalam keluarga meliputi berbagai aspek, seperti membuat anggaran yang realistis, mencatat semua pemasukan dan pengeluaran, serta menetapkan prioritas kebutuhan. Latihan tersebut membantu keluarga memahami kondisi keuangan secara lebih menyeluruh, sehingga pengeluaran dapat tetap terkontrol. Keluarga yang memiliki rencana keuangan yang jelas biasanya bisa mengalokasikan dana dengan lebih efektif, termasuk untuk menyiapkan dana darurat menghadapi kemungkinan yang tidak terduga. Menurut (Sonnia 2022) menekankan bahwa keberadaan dana darurat sangat penting untuk menghindari keluarga mengambil pinjaman yang berisiko tinggi saat mengalami tekanan ekonomi. Dengan demikian, penguatan manajemen keuangan keluarga menjadi langkah awal dalam mencegah pinjol ilegal.
Di sisi lain, masih banyak orang yang melihat pinjaman online sebagai cara tercepat dan termudah untuk mendapatkan uang tunai tanpa mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang. Rendahnya tingkat literasi keuangan membuat masyarakat kurang paham tentang hasil dari penggunaan pinjaman online, terutama yang tidak terdaftar secara resmi. Menurut (Sandri et al. 2023) mengatakan bahwa pinjaman online ilegal dapat membawa dampak yang sangat merugikan, seperti ancaman teror, kebocoran data pribadi, penipuan, pelecehan, serta berbagai tindakan kriminal lainnya. Akibat tersebut tidak hanya merugikan individu secara ekonomi, tetapi juga dapat memicu stres psikologis serta gangguan sosial yang berlangsung dalam jangka panjang.
Upaya untuk mencegah pinjaman online ilegal memerlukan pendekatan yang menyeluruh dan melibatkan berbagai pihak. Menurut (Sandri et al. 2023) menunjukkan bahwa meningkatkan pendidikan keuangan di kalangan remaja adalah langkah strategis karena kelompok usia tersebut memiliki tingkat akses digital yang tinggi. Selain itu, diperlukan kebijakan pemblokiran yang menghalangi penyebaran tautan yang mengarah ke situs judi online dan pinjol ilegal, serta penerapan sanksi hukum yang tegas sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. Kerja sama antara aparat penegak hukum, lembaga pendidikan, sektor swasta, dan masyarakat sangat diperlukan untuk memperluas sosialisasi serta meningkatkan kesadaran publik terhadap bahaya pinjaman online ilegal.
Literasi keuangan juga memainkan peran penting dalam mempengaruhi perilaku keuangan masyarakat dalam menggunakan layanan keuangan berbasis teknologi. Menurut Sujatmiko dan Kausar (2025), tingkat literasi keuangan berpengaruh terhadap cara konsumen mengadopsi layanan paylater dan juga menentukan bagaimana perilaku keuangan dikelola dalam penggunaan layanan tersebut. Pemahaman yang baik tentang konsep keuangan memungkinkan individu untuk menilai dengan lebih rasional keuntungan dan risiko sebelum menggunakan layanan keuangan digital. Edukasi keuangan yang tepat dapat mendorong masyarakat untuk lebih bijak dan bertanggung jawab dalam mengelola keuangan pribadi, sehingga mengurangi kemungkinan penyalahgunaan layanan keuangan.
Peranan literasi keuangan dalam mencegah praktik keuangan yang berisiko diperkuat oleh hasil penelitian Kornitasari (2023), yang menunjukkan bahwa pendidikan mengenai keuangan membantu rumah tangga memahami hak dan kewajiban sebagai pengguna layanan keuangan. Pemahaman tersebut meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengidentifikasi pinjaman ilegal serta membedakan layanan keuangan yang sah dan berada di bawah pengawasan resmi. Peningkatan dalam literasi keuangan membantu mengurangi ketergantungan rumah tangga pada pinjaman online, terutama yang ilegal, karena keputusan keuangan kini diambil dengan dasar yang lebih matang dan rasional.
Selain literasi keuangan yang tradisional, literasi keuangan digital menjadi elemen penting dalam menghadapi kemajuan teknologi finansial. Pengamatan dari (Nur Amalina, Erikawati, Roffifudin, Sekar Arum, dan Miyanti 2023) menunjukkan bahwa pengetahuan tentang cara kerja platform digital, risiko dalam transaksi online, serta ciri layanan keuangan yang sah bisa meningkatkan kewaspadaan masyarakat sebelum membuat keputusan keuangan. Literasi keuangan digital berperan dalam membantu individu mengidentifikasi potensi penipuan dan praktik ilegal yang sering kali tersembunyi di balik kemudahan teknologi. Dengan meningkatnya literasi keuangan digital, diharapkan masyarakat dapat menjadi lebih terampil, kritis, dan selektif dalam menggunakan layanan keuangan digital yang sesuai dengan aturan dan prinsip kehati-hatian.
Upaya Mengatasi Praktik Pinjol secara Ilegal pada Bidang Pendidikan Ekonomi
Menurut (Kornitasari 2023) menyatakan bahwa pendidikan dan pemahaman tentang keuangan memiliki peran yang vital untuk membantu keluarga memahami risiko dari penggunaan layanan pinjaman online, terutama yang ilegal yang berkembang pesat dalam era digital. Dengan pengetahuan yang baik tentang prinsip pengelolaan keuangan rumah tangga, hak serta kewajiban konsumen, dan cara kerja layanan keuangan digital, masyarakat bisa lebih baik dalam membuat keputusan finansial yang cermat dan terencana. Pemahaman keuangan juga membantu rumah tangga membedakan antara pinjaman yang legal dan ilegal, sehingga rumah tangga tidak mudah tertipu oleh tawaran pinjaman cepat yang memiliki bunga dan denda yang tidak jelas. Dengan meningkatnya pemahaman keuangan, ketergantungan rumah tangga pada pinjaman online, terutama yang ilegal, dapat dikurangi karena masyarakat memiliki strategi pengelolaan keuangan yang lebih baik dan berkelanjutan (Kornitasari, 2023).
Menurut (Sonnia 2022) mengungkapkan bahwa rendahnya kemampuan dalam mengelola keuangan keluarga menjadi salah satu penyebab utama masyarakat memilih pinjaman online ilegal sebagai solusi sementara untuk masalah keuangan. Ketidakmampuan dalam merencanakan keuangan, tidak adanya pencatatan tentang pemasukan dan pengeluaran, serta lemahnya pengelolaan dana darurat membuat rumah tangga berada dalam posisi yang rentan saat menghadapi keadaan darurat. Pemahaman keuangan yang baik dapat memberi masyarakat keterampilan untuk menyusun anggaran, menentukan prioritas kebutuhan, dan mengelola pengeluaran secara efisien. Kemampuan tersebut memiliki peran penting dalam memperkuat ketahanan finansial keluarga, sehingga keputusan untuk mengambil pinjaman online ilegal dapat dihindari (Sonnia, 2022).
Menurut (Sjahruddin et al. 2023) menjelaskan bahwa pemahaman keuangan memiliki peran yang strategis dalam memperkuat pengaruh sikap, norma subjektif, dan persepsi kontrol terhadap keputusan individu dalam hal keuangan, termasuk investasi dan menggunakan layanan keuangan digital. Pengetahuan keuangan yang baik memungkinkan individu untuk lebih objektif dalam memahami risiko dan manfaat dari pilihan finansial yang ada. Pemahaman tersebut turut mendorong sikap lebih berhati-hati dalam mengelola keuangan pribadi, sehingga individu tidak mudah terpengaruh oleh tekanan sosial maupun tawaran keuntungan instan. Oleh karena itu, pemahaman keuangan membantu dalam membentuk perilaku finansial yang lebih bijaksana, terarah, dan bertanggung jawab (Sjahruddin et al. , 2023).
Menurut (Sandri et al. 2023) menyoroti bahwa rendahnya pemahaman keuangan masyarakat menyebabkan banyak orang melihat pinjaman online sebagai solusi cepat tanpa mempertimbangkan risiko yang mungkin muncul di masa depan. Pinjaman online ilegal berpotensi membawa dampak negatif, seperti ancaman, tekanan psikologis, penyalahgunaan data pribadi, penipuan, dan praktik penagihan yang tidak manusiawi. Edukasi keuangan yang komprehensif mampu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap risiko tersebut serta memperkuat kemampuan individu dalam menilai legalitas dan kredibilitas layanan keuangan digital. Pemahaman keuangan yang baik juga berfungsi sebagai perlindungan bagi masyarakat dari praktik keuangan ilegal yang merugikan baik secara ekonomi maupun sosial (Sandri et al. , 2023).
Menurut penelitian oleh (Nur Amalina, Erikawati, Roffifudin, Sekar Arum, dan Miyanti 2023), pentingnya literasi keuangan digital sangat besar dalam mencegah masyarakat terjebak dalam pinjaman online ilegal di era kemajuan teknologi finansial yang cepat. Mengetahui bagaimana platform digital berfungsi, memahami sistem keamanan transaksi online, dan mengenal ciri-ciri layanan pinjaman yang terdaftar secara resmi adalah hal yang penting untuk membuat keputusan keuangan yang baik. Selain itu, literasi keuangan digital memungkinkan individu untuk mengenali tanda-tanda penipuan, menyadari risiko penyalahgunaan data pribadi, dan menghindari layanan keuangan yang tidak sesuai dengan aturan yang ada. Dengan meningkatnya pemahaman soal literasi keuangan digital, diharapkan masyarakat lebih mampu memanfaatkan layanan keuangan berbasis teknologi dengan aman, bijaksana, dan bertanggung jawab (Nur Amalina et al. , 2023).
Menurut (Sujatmiko dan Kausar 2025) menjelaskan bahwa literasi keuangan berperan besar dalam mempengaruhi perilaku konsumen ketika menggunakan layanan keuangan berbasis teknologi, seperti layanan paylater dan pinjaman online. Individu dengan tingkat literasi keuangan yang tinggi cenderung lebih selektif dalam memilih produk keuangan digital dan lebih mampu mengelola berbagai risiko yang mungkin muncul dari penggunaan layanan tersebut. Peningkatan literasi keuangan mendorong konsumen untuk mempertimbangkan kemampuan finansial, konsekuensi jangka panjang, serta aspek legalitas sebelum memutuskan menggunakan layanan keuangan. Oleh karena itu, memperbaiki literasi keuangan menjadi hal yang sangat penting untuk membentuk perilaku keuangan masyarakat yang lebih bijak dan berkelanjutan (Sujatmiko & Kausar, 2025).
Perkembangan dalam teknologi informasi dan penggunaan internet telah menyebabkan perubahan besar di sektor keuangan, terutama dengan adanya layanan pinjaman online yang berbasis digital. Layanan Peer-To-Peer lending memberikan akses mudah ke sumber pembiayaan melalui proses yang cepat dan persyaratan yang sederhana, sehingga dapat menjangkau individu yang sebelumnya sulit mengakses lembaga keuangan resmi (Putri Maulida, 2023; Septian, 2024). Meski menawarkan kemudahan, layanan tersebut tetap memiliki risiko karena banyak orang masih memiliki pemahaman yang rendah mengenai literasi keuangan, terutama terkait bunga, biaya tambahan, mekanisme penagihan, serta konsekuensi hukum dari penggunaan pinjaman online ilegal (Sandri et al., 2023).
Rendahnya pemahaman tentang keuangan dan pengelolaan uang keluarga menjadi faktor utama yang mendorong orang untuk memakai pinjaman online ilegal sebagai solusi cepat saat menghadapi masalah ekonomi. Ketidakmampuan dalam melakukan perencanaan keuangan, pencatatan arus kas yang tidak teratur, dan kurangnya dana darurat membuat banyak keluarga berada dalam situasi rentan terhadap pinjaman dengan bunga tinggi dan sistem yang tidak jelas (Sonnia, 2022). Oleh karena itu, memperkuat manajemen keuangan keluarga melalui penyusunan anggaran, penetapan prioritas kebutuhan, serta pengelolaan dana darurat sangat penting untuk membangun ketahanan finansial.
Literasi keuangan memiliki peran penting dalam membentuk perilaku keuangan yang lebih rasional dan bertanggung jawab. Dengan memahami hak dan kewajiban sebagai konsumen, keabsahan penyedia pinjaman, dan risiko dalam layanan keuangan digital, masyarakat dapat membuat keputusan finansial yang lebih bijak dan terencana (Kornitasari, 2023). Selain itu, literasi keuangan juga membantu individu menjadi lebih berhati-hati dan mengurangi pengaruh sosial saat membuat keputusan tentang uang (Sjahruddin et al. , 2023).
Perkembangan cepat dalam teknologi finansial memerlukan peningkatan pengetahuan tentang literasi keuangan digital, agar masyarakat dapat memahami cara kerja platform digital, keamanan saat bertransaksi online, serta cara mengidentifikasi layanan pinjaman yang resmi dan diawasi. Dengan pengetahuan tersebut, masyarakat dapat lebih waspada terhadap penipuan dan penyalahgunaan data pribadi, serta mendorong pemanfaatan layanan keuangan digital dengan lebih bijaksana (Nur Amalina et al. , 2023).
Untuk mencegah adanya pinjaman online yang ilegal, perlu ada kerjasama antara edukasi literasi keuangan, regulasi yang jelas, dan pengawasan yang berkelanjutan. Penegakan hukum terhadap penyedia layanan ilegal, pemblokiran layanan yang tidak memiliki izin, serta peningkatan transparansi dalam informasi produk keuangan sangat penting untuk melindungi konsumen dan membangun ekosistem keuangan digital yang aman (Sandri et al. , 2023; Sonnia, 2022). Pengembangan program edukasi keuangan yang terstruktur menjadi kunci untuk menciptakan budaya finansial yang sehat dan berkelanjutan.

Penulis: Bintang Maharania Widodo
Mahasiswa S1 Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Muhammadiyah Malang











