ArtikelOpini

Zoonosis di Balik Atraksi Jalanan: Mengapa Dokter Hewan Harus Turun Tangan?

Avatar photo
45
×

Zoonosis di Balik Atraksi Jalanan: Mengapa Dokter Hewan Harus Turun Tangan?

Sebarkan artikel ini
Seekor monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) yang sedang dikenakan pakaian mengendari motor dan dipaksa melakukan atraksi di jalanan (topeng monyet).

NEWSFEED.ID, Surabaya — Atraksi topeng monyet masih sering dijumpai di beberapa daerah di Indonesia. Monyet ekor panjang yang berjalan tegak, mengendarai sepeda, atau mengenakan pakaian manusia menjadi tontonan yang dianggap lucu. Namun di balik hiburan tersebut terdapat masalah besar yang jarang dibicarakan yaitu risiko zoonosis dan pelanggaran kesejahteraan hewan yang serius.

Praktik eksploitasi satwa liar seperti topeng monyet bukan hanya isu moral. Kehadiran hewan liar di ruang publik tanpa pengawasan kesehatan dan kesejahteraan membuka potensi penularan penyakit, mengganggu keseimbangan ekosistem, serta memperburuk persepsi masyarakat terhadap satwa liar. Di sinilah peran dokter hewan menjadi sangat penting.

Monyet Ekor Panjang dalam Tekanan Konservasi

Monyet ekor panjang atau Macaca fascicularis adalah primata yang paling sering digunakan dalam atraksi jalanan. Padahal sejak 2022, Persatuan Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) menetapkan monyet ekor panjang sebagai spesies yang terancam punah. Populasinya diperkirakan menurun hingga 40 persen dalam 42 tahun akibat eksploitasi, perburuan, dan rusaknya habitat.

Meski begitu, di Indonesia monyet ekor panjang belum masuk daftar satwa dilindungi. Ketiadaan perlindungan hukum ini membuat mereka semakin mudah ditangkap, diperdagangkan, dan dioperasikan sebagai objek hiburan jalanan. Sementara di beberapa negara seperti Thailand dan Singapura, monyet ekor panjang justru mulai memperoleh perlindungan ketat karena populasinya terus menurun.

Kondisi ini menunjukkan bahwa penggunaan monyet dalam hiburan bukanlah permasalahan kecil. Ini berkaitan dengan keberlangsungan hidup satwa liar di Indonesia.

Risiko Zoonosis dari Atraksi Monyet Jalanan

Monyet ekor panjang dapat membawa berbagai patogen penyebab penyakit yang berpotensi menular kepada manusia. Kondisi ini menjadi lebih berbahaya ketika hewan dipaksa tampil di jalanan, dirantai, atau berinteraksi secara langsung dengan penonton, karena risiko penularannya meningkat.

Beberapa penyakit yang berpotensi muncul antara lain:

  • Tuberkulosis
  • Rabies
  • Herpes B virus
  • Infeksi kulit seperti kudis dan kurap
  • Berbagai patogen yang dapat menular melalui cakaran, gigitan, atau droplet

Hewan yang stres dan hidup dalam kondisi tidak higienis memiliki sistem kekebalan yang rendah. Kondisi ini membuat mereka lebih mudah membawa patogen berbahaya. Interaksi tanpa perlindungan antara hewan dan manusia membuka peluang penularan yang besar.

Sayangnya, sebagian masyarakat masih menganggap atraksi ini sebagai hiburan tradisional tanpa memahami ancaman kesehatan yang menyertainya.

Pelarian Sembarangan Menambah Masalah

Ketika monyet tidak lagi digunakan untuk pertunjukan, beberapa pelaku melepaskan hewan tersebut ke ruang terbuka seperti hutan kota atau sungai. Tindakan ini sering dianggap sebagai bentuk “membebaskan hewan”.

Padahal pelepasliaran tanpa rehabilitasi dapat menimbulkan konflik satwa-manusia. Monyet yang terbiasa dengan manusia cenderung turun ke permukiman untuk mencari makan, merusak kebun, atau menyerang warga. Risiko penyebaran penyakit juga meningkat ketika hewan liar yang tidak terpantau dilepas begitu saja.

JAAN menekankan pentingnya prosedur 3R yaitu Rescue, Rehabilitation, dan Release. Tanpa tahapan tersebut, satwa berisiko mati, menciptakan konflik baru, atau bahkan dibunuh karena dianggap mengganggu.

Mengapa Dokter Hewan Memegang Peran Penting?

Situasi ini menunjukkan bahwa profesi dokter hewan tidak hanya bekerja di klinik atau rumah sakit hewan. Tantangan konservasi dan zoonosis menuntut dokter hewan terlibat dalam berbagai aspek kesehatan masyarakat.

1. Ahli dalam penyakit zoonosis

Dokter hewan memahami patogen, mekanisme penularan, dan bagaimana mencegah penyebarannya dari hewan ke manusia. Kompetensi ini sangat penting dalam mengurangi risiko dari atraksi satwa liar.

2. Penjaga kesejahteraan hewan

Prinsip animal welfare adalah dasar profesi kedokteran hewan. Penggunaan monyet dalam hiburan jelas melanggar lima kebebasan dasar hewan, sehingga dokter hewan wajib menjadi suara bagi perlindungan satwa.

3. Edukasi kepada masyarakat

Dokter hewan memiliki peran kunci dalam meningkatkan kesadaran publik tentang bahaya zoonosis, pentingnya konservasi, dan dampak eksploitasi hewan liar.

4. Keterlibatan dalam rehabilitasi satwa

Satwa yang diselamatkan dari praktik topeng monyet memerlukan pemeriksaan kesehatan, perawatan medis, dan rehabilitasi perilaku sebelum siap dilepasliarkan kembali. Semua tahapan ini membutuhkan keahlian dokter hewan.

5. Kolaborasi lintas sektor

Dokter hewan bekerja bersama lembaga rehabilitasi satwa, kementerian kehutanan, karantina hewan, dan dinas sosial untuk menciptakan solusi yang adil bagi satwa dan manusia.

Saatnya Berhenti Menganggap Topeng Monyet sebagai Hiburan

Atraksi topeng monyet bukan lagi praktik yang dapat diterima. Risiko zoonosis, pelanggaran kesejahteraan hewan, dan keterancaman populasi menjadi alasan kuat untuk menghentikannya sepenuhnya.

Melalui edukasi yang tepat, penegakan hukum, dan dukungan profesi dokter hewan, perlindungan terhadap satwa liar dapat diperkuat. Masyarakat perlu memahami bahwa satwa bukan objek hiburan, tetapi makhluk hidup yang memiliki hak untuk hidup sehat, bebas dari penderitaan, dan dihormati keberadaannya.

Referensi:

Penulis: Marhaingga Maurizcha Diwirya, Mahasiswa Universitas Airlangga

Editor: Fuad Parhan, Tim NewsFeed.id