ArtikelOpini

Tak Dimengerti di Rumah Sendiri, Kisah Anak dalam Keluarga yang Buta Empati

Avatar photo
284
×

Tak Dimengerti di Rumah Sendiri, Kisah Anak dalam Keluarga yang Buta Empati

Sebarkan artikel ini
Seorang anak berdiri di balik jendela rumah, merefleksikan perasaan terasing yang kerap dialami ketika komunikasi dan empati dalam keluarga tidak terbangun dengan baik.

NEWSFEED.ID, Semarang — Di balik pintu rumah yang seharusnya menjadi tempat perlindungan, sering kali tersembunyi kisah-kisah anak yang merasa seperti orang asing di dunia mereka sendiri. Keluarga, yang seharusnya menjadi sumber empati dan pemahaman, kadang-kadang justru menjadi dinding tebal yang menghalangi komunikasi.

Anak-anak tumbuh dengan harapan sederhana: dipahami oleh orang tua mereka. Namun, realitasnya sering berbeda. Orang tua yang “buta empati” tidak mampu melihat atau merasakan dunia anak dari sudut pandang mereka menciptakan kesenjangan yang mendalam. Artikel ini menggali kisah-kisah tersebut, menganalisis penyebabnya, dan menawarkan harapan untuk perubahan.

Kisah Pribadi di Balik Dinding Rumah

Bayangkan seorang remaja bernama Lia, yang tumbuh di keluarga tradisional di sebuah kota kecil. Orang tuanya bekerja keras untuk menyediakan kehidupan yang stabil, tetapi mereka jarang bertanya tentang apa yang sedang Lia rasakan. Ketika Lia mengungkapkan minatnya pada seni dan musik, ayahnya berkata, “Itu bukan pekerjaan serius. Fokuslah pada pelajaran agar bisa kerja kantoran seperti aku.” Ibu Lia, meski peduli, lebih sering memarahi daripada mendengarkan. Lia merasa seperti suaranya hilang dalam angin. Ia ingin orang tuanya memahami kegelisahannya saat menghadapi tekanan sekolah atau pertemanan, tetapi yang didapatnya hanyalah nasihat standar: “Kamu harus kuat, seperti kami dulu.”

Kisah Lia bukanlah pengecualian. Banyak anak mengalami hal serupa. Menurut sebuah studi dari American Psychological Association (APA) pada 2020, sekitar 40% anak remaja melaporkan kurangnya empati dari orang tua, yang berkontribusi pada masalah kesehatan mental seperti kecemasan dan depresi. Di Indonesia, survei dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (2022) menunjukkan bahwa 30% anak merasa tidak didengarkan di rumah, terutama dalam keluarga yang menganut norma tradisional di mana anak diharapkan patuh tanpa banyak pertanyaan.

Mengapa Keluarga Bisa “Buta Empati”?

Empati adalah kemampuan untuk merasakan dan memahami perasaan orang lain. Namun, dalam keluarga, empati sering kali terganggu oleh beberapa faktor. Pertama, perbedaan generasi. Orang tua yang tumbuh di era berbeda mungkin tidak memahami tantangan anak saat ini, seperti tekanan media sosial atau perubahan sosial. Misalnya, orang tua yang mengalami masa sulit ekonomi mungkin melihat anak mereka sebagai “manja” jika mereka mengeluh tentang stres sekolah.

Kedua, pola asuh yang otoriter. Banyak keluarga Indonesia masih dipengaruhi oleh budaya hierarki, di mana orang tua dianggap otoritas mutlak. Ini membuat anak enggan berbagi, dan orang tua enggan mendengarkan. Psikolog keluarga, seperti yang dijelaskan dalam buku “The Whole-Brain Child” karya Daniel J. Siegel, menekankan bahwa empati membutuhkan latihan aktif, bukan insting. Tanpa itu, orang tua bisa terjebak dalam pola “mengasuh” yang lebih fokus pada kontrol daripada pemahaman.

Ketiga, faktor eksternal yang sering dialami seperti stres kerja atau masalah ekonomi. Orang tua yang lelah mungkin tidak punya energi untuk mendengarkan. Ini menciptakan siklus: anak merasa tidak dipahami, sehingga menarik diri, dan orang tua semakin sulit membaca sinyal mereka.

Dampak pada Anak dan Keluarga

Dampak dari keluarga yang buta empati bisa berlangsung seumur hidup. Anak seperti Lia mungkin tumbuh menjadi dewasa yang kesulitan membangun hubungan intim, karena mereka belajar bahwa suara mereka tidak penting. Secara psikologis, kurangnya empati keluarga dapat meningkatkan risiko gangguan mental. Penelitian dari Journal of Family Psychology (2018) menemukan bahwa anak-anak yang merasa tidak dipahami oleh orang tua 2-3 kali lebih mungkin mengalami isolasi sosial.

Bagi keluarga, ini juga merugikan. Orang tua yang tidak empati mungkin kehilangan kesempatan untuk mendekatkan diri dengan anak, menciptakan jarak emosional yang sulit diperbaiki. Dalam jangka panjang, ini bisa mempengaruhi dinamika keluarga, seperti konflik yang berulang atau anak yang pindah jauh setelah dewasa.

Jalan Keluar: Membangun Empati Bersama

Meski tantangan besar, perubahan mungkin. Langkah pertama adalah kesadaran. Orang tua perlu belajar mendengarkan aktif: bukan hanya mendengar kata-kata, tapi juga bahasa tubuh dan emosi di baliknya. Teknik sederhana seperti “mirroring” mengulangi apa yang anak katakan untuk menunjukkan pemahaman bisa membantu.

Kedua, pendidikan keluarga. Program seperti parenting class atau buku seperti “How to Talk So Kids Will Listen” karya Adele Faber dapat menjadi panduan. Di Indonesia, organisasi seperti Yayasan Anak Indonesia atau konseling keluarga di sekolah bisa menjadi sumber dukungan.

Ketiga, komunikasi terbuka. Anak juga perlu belajar mengungkapkan perasaan mereka dengan jelas. Keluarga bisa mulai dengan rutinitas seperti makan malam bersama tanpa gadget, di mana setiap orang berbagi satu hal positif dan satu tantangan.

Akhirnya, empati adalah keterampilan yang bisa dipelajari. Kisah Lia berakhir dengan harapan: setelah mengikuti terapi keluarga, ia belajar berkomunikasi, dan orang tuanya mulai memahami. Rumah yang dulunya terasa asing kini menjadi tempat di mana suara anak didengar.

Kesimpulan: Harapan untuk Generasi Mendatang

Tak dimengerti di rumah sendiri bukanlah takdir. Dengan usaha bersama, keluarga bisa berubah dari “buta empati” menjadi sumber dukungan. Anak-anak seperti Lia mengingatkan kita bahwa empati bukanlah hak istimewa, melainkan kebutuhan dasar. Mari kita mulai dari rumah kita sendiri, agar generasi mendatang tidak lagi merasa seperti orang asing di dunia mereka. Jika Anda mengalami hal serupa, ingatlah: suara Anda penting, dan perubahan dimulai dari dialog.

Penulis: Kuni Aulia Isyakiroh
Mahasiswa UIN Walisongo Semarang

Editor: Fuad Parhan, Tim NewsFeed.id