ArtikelOpini

Scroll, Klik, dan Share: Potret Kehidupan Digital Masa Kini

Avatar photo
357
×

Scroll, Klik, dan Share: Potret Kehidupan Digital Masa Kini

Sebarkan artikel ini
Poster mengenai Scroll, Klik, dan Share: Potret Kehidupan Digital Masa Kini.

NEWSFEED.ID, Banten — Scroll, klik, dan share sudah menjadi kebiasaan yang sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Hampir semua orang melakukannya, sadar atau tidak. Begitu bangun tidur, sebelum benar-benar membuka mata, tangan sudah lebih dulu meraih ponsel.

Media sosial dibuka, linimasa digulir pelan, lalu satu per satu konten lewat begitu saja. Awalnya hanya ingin melihat sebentar, tapi tanpa terasa waktu sudah berjalan cukup lama. Fenomena ini kini menjadi gambaran umum kehidupan digital masyarakat.

Perkembangan teknologi informasi membuat aktivitas manusia berubah dengan cepat. Internet dan media sosial tidak lagi hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga menjadi ruang untuk mencari hiburan, informasi, bahkan pengakuan sosial.

Menurut Rulli Nasrullah dalam Jurnal Ilmu Komunikasi, media sosial telah menciptakan budaya komunikasi baru yang serba cepat dan terbuka. Setiap orang bisa berbicara, berpendapat, dan menyebarkan informasi tanpa harus melalui proses penyaringan seperti di media konvensional.

Kebiasaan scroll tanpa henti menjadi salah satu ciri utama kehidupan digital masa kini. Linimasa media sosial seolah tidak pernah habis. Selalu ada konten baru yang muncul, mulai dari video lucu, berita terbaru, sampai curahan perasaan orang lain. Banyak orang menikmati aktivitas ini sebagai hiburan, tapi tidak sedikit pula yang akhirnya merasa lelah secara mental. Informasi datang terlalu cepat, sementara otak tidak selalu siap mencerna semuanya.

Masalahnya, tidak semua informasi yang kita lihat benar-benar kita pahami. Banyak orang hanya melihat sekilas, lalu langsung beralih ke konten berikutnya. Membaca panjang sering dianggap membosankan. Akibatnya, pemahaman menjadi dangkal. Budaya membaca pelan dan mendalam perlahan tergeser oleh kebiasaan melihat cepat dan singkat. Inilah salah satu dampak dari banjir informasi di ruang digital.

Algoritma media sosial juga punya peran besar dalam membentuk apa yang kita lihat setiap hari. Penelitian Kurnia dan Astuti dalam Jurnal Komunikasi menjelaskan bahwa media sosial cenderung menampilkan konten yang sesuai dengan minat dan kebiasaan pengguna. Tanpa disadari, kita sering berada dalam “lingkaran nyaman”, hanya melihat informasi yang sejalan dengan pandangan sendiri.

Hal ini membuat sudut pandang menjadi sempit dan kurang terbuka terhadap perbedaan. Selain scroll, kebiasaan klik cepat juga semakin sering terjadi. Judul yang menarik perhatian sering kali langsung diklik tanpa berpikir panjang. Banyak orang membuka tautan hanya karena penasaran, bukan karena benar-benar ingin memahami isinya. Setiadi dalam Jurnal Humaniora menyebutkan bahwa media digital mendorong pola konsumsi informasi yang instan. Kecepatan menjadi hal utama, sementara ketelitian sering kali diabaikan.

Judul clickbait menjadi contoh nyata dari budaya klik ini. Judul dibuat bombastis agar orang tertarik membuka, meskipun isi beritanya biasa saja atau bahkan tidak sesuai. Akibatnya, pembaca sering merasa tertipu atau salah paham. Lebih parah lagi, informasi yang setengah dipahami bisa dengan mudah dipercaya dan disebarkan ke orang lain.

Kebiasaan share di media sosial sebenarnya punya sisi baik. Banyak informasi bermanfaat yang tersebar luas berkat kebiasaan berbagi. Penggalangan dana, ajakan bantuan, dan kampanye sosial sering kali berhasil karena kekuatan share dari para pengguna media sosial. Dalam banyak situasi, media sosial mampu membangun rasa kebersamaan dan solidaritas.

Namun, di balik itu semua, share juga bisa menjadi masalah besar jika dilakukan tanpa pertimbangan. Banyak orang membagikan informasi hanya karena merasa informasi tersebut penting atau menyentuh emosi, tanpa memeriksa kebenarannya. Penelitian Christianty Juditha dalam Jurnal Penelitian Komunikasi menunjukkan bahwa hoaks di Indonesia banyak menyebar melalui media sosial dan grup percakapan.

Informasi palsu sering kali dibagikan karena rasa takut, panik, atau empati yang berlebihan. Satu informasi yang salah bisa berdampak luas. Kesalahpahaman, perdebatan, bahkan konflik sosial sering bermula dari konten yang dibagikan tanpa verifikasi. Sayangnya, masih banyak orang yang menganggap share sebagai hal sepele. Padahal, setiap konten yang dibagikan membawa tanggung jawab sosial.

Kondisi ini menunjukkan bahwa literasi digital masih menjadi tantangan besar. Literasi digital bukan hanya soal bisa menggunakan ponsel atau aplikasi, tetapi juga soal kemampuan berpikir kritis. Kurnia dan Astuti menjelaskan bahwa literasi digital mencakup kemampuan memahami isi informasi, menilai kebenarannya, dan menyadari dampak dari setiap tindakan di ruang digital.

Selain literasi, etika bermedia juga sangat penting. Media sosial memberi kebebasan berekspresi, tetapi kebebasan tersebut perlu diimbangi dengan tanggung jawab. Menghargai pendapat orang lain, menjaga privasi, serta menghindari penyebaran informasi yang belum jelas kebenarannya adalah bagian dari etika digital yang sering dilupakan.

Pada akhirnya, scroll, klik, dan share bukan sekadar aktivitas biasa. Ketiganya mencerminkan cara manusia berinteraksi dengan teknologi. Teknologi pada dasarnya netral. Ia bisa membawa manfaat besar jika digunakan dengan bijak, tetapi juga bisa menimbulkan masalah jika digunakan tanpa kendali.

Di tengah derasnya arus informasi, penting bagi setiap orang untuk sesekali berhenti, berpikir, dan bertanya pada diri sendiri: apakah informasi ini benar, apakah perlu dibagikan, dan apa dampaknya bagi orang lain. Kebiasaan sederhana ini bisa membuat ruang digital menjadi lebih sehat dan bermanfaat. Kehidupan digital masa kini tidak mungkin dihindari. Yang bisa dilakukan adalah belajar beradaptasi dengan lebih bijak.

Dengan scroll yang terkontrol, klik yang kritis, dan share yang bertanggung jawab, teknologi bisa menjadi alat yang membantu, bukan justru membebani kehidupan sosial kita.

DAFTAR PUSTAKA

  • Nasrullah, R. (2017). Media Sosial dan Perubahan Budaya Komunikasi Masyarakat. Jurnal Ilmu Komunikasi.
  • Setiadi, A. (2016). Pemanfaatan Media Sosial untuk Efektivitas Komunikasi. Jurnal Humaniora UGM.
  • Kurnia, N., & Astuti, S. I. (2019). Peta Gerakan Literasi Digital di Indonesia. Jurnal Komunikasi UII.
  • Juditha, C. (2018). Interaksi Komunikasi Hoaks di Media Sosial. Jurnal Penelitian Komunikasi Kominfo RI.

Penulis: Cahya Dewi Ardiningrum
Mahasiswi Semester 3
Fakultas Dakwah
Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Editor: Fuad Parhan, Tim NewsFeed.id