ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana budaya lokal direpresentasikan melalui podcast sebagai media digital di Nagari Koto Tuo, Kecamatan Harau. Di tengah perkembangan digitalisasi informasi, podcast muncul sebagai sarana alternatif yang mampu menyampaikan nilai-nilai adat, identitas lokal, serta narasi masyarakat secara fleksibel dan mudah diakses. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan metode studi kasus. Data diperoleh melalui observasi dengan kreator podcast, observasi isi konten, serta dokumentasi secara langsung dan aktivitas komunitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa podcast digunakan untuk mengangkat cerita rakyat, nilai adat, dan pengalaman hidup masyarakat secara naratif dan personal. Kami sebagai Mahasiswa melihat podcast sebagai ruang strategis dalam upaya pelestarian budaya di tengah arus modernisasi. Meski terkendala oleh akses teknologi dan keterbatasan sumber daya, podcast lokal tetap memiliki potensi besar dalam memperkuat identitas budaya dan memperluas jangkauan narasi lokal ke publik yang lebih luas.
Kata kunci: podcast, budaya lokal, representasi media digital, Nagari Koto Tuo
ABSTRACT
This study aims to examine how local culture is represented through podcasts as a digital medium in Nagari Koto Tuo, Harau District. Amid the rise of digital information, podcasts have emerged as an alternative platform for conveying cultural values, traditional customs, and local identity in a flexible and accessible way. This research employs a qualitative approach with a case study method. Data were collected through in-depth interviews with local podcast creators, content
observation, and documentation from social media and community activities. The findings indicate that podcasts are used to narrate folktales, Minangkabau traditions, and community experiences in a personal and narrative form. We view this medium as a strategic space for cultural preservation in the face of modernization. Despite challenges such as limited technological access and lack of resources, local podcasts have significant potential to strengthen cultural identity and expand the reach of local narratives to a broader audience.
Keywords: podcast, local culture, digital media representation, Nagari Koto Tuo.
PENDAHULUAN
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah membawa perubahan besar dalam cara masyarakat memproduksi, mendistribusikan, dan mengakses informasi. Media digital telah membuka ruang-ruang baru bagi partisipasi masyarakat dalam menyampaikan gagasan, narasi, dan ekspresi budaya. Salah satu media yang mengalami pertumbuhan signifikan dalam era digital adalah podcast. Sebagai bentuk media berbasis audio, podcast menawarkan fleksibilitas dan kemudahan akses yang menjadikannya alat yang efektif dalam menyampaikan konten secara naratif dan personal. Podcast merupakan istilah akronim dari Pod dan Broadcasting yang merujuk pada perangkat Apple iPod sebagai platform distribusi podcast pertama, sedangkan Broadcasting yang berarti siaran atau penyiaran. Secara sederhana, podcast diartikan sebagai teknologi yang digunakan untuk mendistribusikan, menerima, dan mendengarkan konten secara on-demand atau sesuai permintaan yang diproduksi oleh professional maupun radio amatir (Silaban, Amirollah dan Rafianti, 2020). Podcast telah menjadi media yang efektif dalam pelestarian budaya lokal dan peningkatan kesadaran publik akan pentingnya menjaga warisan budaya, dengan memanfaatkan aksesibilitas dan daya tarik konten audio untuk menyebarluaskan informasi tentang situs budaya, tradisi, dan sejarah secara lebih mendalam. Sebagai alat edukatif, podcast memberikan wawasan mengenai sejarah dan praktik budaya lokal, seperti yang terlihat dalam perkembangan podcast di Pangandaran yang berhasil meningkatkan edukasi publik terhadap situs bersejarah setempat, serta memungkinkan partisipasi masyarakat melalui penceritaan dan sejarah lisan yang mengangkat suara-suara terpinggirkan (Kasatriyanto & Ardy Wibowo, 2021).
Podcast ini merupakan produk dari media massa yang sangat populer. Podcast juga media hiburan yaitu merupakan salah satu fungsi dari komunikasi, film mempunyai tempat tersendiri bagi khalayak, dibanding dengan media massa lainnya. Tidak hanya menyuguhkan alur cerita yang menarik, namun juga gambar dan efek suara yang dapat menciptakan suasana bagi khalayak membuat podcast tidak pernah bosan untuk dinikmati. Denis Mc Quail (2010), memberikan catatan bahwa sepanjang sejarah dan perkembangan film, sejarah mencatat terdapat tiga tema besar yang penting, yaitu munculnya aliran-aliran seni video, lahirnya video dokumentasi sosial, dan pemanfaatan video sebagai media propoganda. Sebagai medium propaganda, film mempunyai jangkauan realisme, pengaruh emosional, dan popularitas yang hebat karena podcast mempunyai jangkauan sekian banyak orang dalam waktu yang cepat dan kemampuannya untuk memanipulasi kenyataan yang tampak dalam pesan fotografis tanpa kehilangan kredibilitas (Zellatifanny, 2020).
Kemajuan teknologi digital juga telah mengubah pola masyarakat dalam mengakses serta menyebarkan informasi. Salah satu media digital yang tengah populer saat ini adalah podcast, yaitu siaran berbasis audio yang dapat didengarkan kapan saja dan di mana saja secara daring. Podcast menawarkan cara yang fleksibel dan praktis untuk menyampaikan beragam informasi, termasuk isu-isu budaya dan tradisi lokal. Dalam konteks pelestarian budaya, podcast memiliki potensi sebagai sarana komunikasi yang efektif dalam menyebarkan narasi budaya dan pesan-pesan adat kepada masyarakat luas, khususnya generasi muda yang terbiasa dengan teknologi digital(Wysocki et al., 2005).
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dimana peneliti akan mengajukan pertanyaan kepada informan yang telah ditentukan dan mengamati media yang digunakan untuk memahami dan mempelajari, serta akan digambarkan secara deskriptif.
Menurut Creswell (2008) penelitian kualitatif atau qualitative research adalah penelitian yang bertujun untuk mengeksplorasi dan menemukan makna dari sebuah fenomena. Penggunaan metode penelitian kualitatif karena peneliti akan menggali informasi secara mendalam mengenai peran podcast sebagai media penyebaran informasi.
Prosedur kegiatan meliputi observasi lapangan dengan mengidentifikasi potensi lokal dan kebutuhan media promosi yang relevan di Nagari Koto Tuo. Melakukan wawancara Semi- Terstruktur yang dilakukan dengan tokoh adat, pelaku UMKM lokal, generasi muda, dan perangkat nagari untuk menggali narasi-narasi lokal. Produksi podcast dengan pembuatan skrip, perekaman audio, penyuntingan, dan distribusi melaluli platform seperti Youtube. Evaluasi respons yaitu penilaian terhadap respons masyarakat lokal dan pengguna awal podcast.
Kegiatan ini dilaksanakan selama 30 hari, dengan pendekatan kolaboratif antara tim KKN, perangkat nagari, dan komunitas muda nagari.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Podcast yang dikembangkan diberi nama “PDKT (Podcast di Koto Tuo). Tema yang diangkat dalam episode awal meliputi Sejarah Nagari Koto Tuo, Kuliner Khas di Nagari Koto Tuo. Penggunaan narasi lokal dan logat khas Minangkabau secara signifikan menambah keautentikan dan daya tarik podcast, sebagaimana juga disarankan oleh penelitian dari Rahmawati & Lestari (2020) yang menekankan pentingnya pendekatan lokal dalam produksi konten digital berbasis komunitas.
Podcast ini tidak hanya menjadi media promosi ke luar, tetapi juga sarana edukasi internal bagi masyarakat nagari sendiri. Khususnya generasi muda yang belum banyak mengenal sejarah atau cerita rakyat dari daerahnya. Warga nagari mulai menunjukkan ketertarikan untuk mendengarkan dan bahkan menyumbangkan cerita. Podcast ini juga akan menjadi platfrom partisipatif yang memperkuat identitas dan rasa memiliki terhadap budaya lokal. Dalam hal ini media podcast bersifat inklusif, siapa pun bisa menjadi narasumber maupun pendengar.
KESIMPULAN
Studi ini menunjukkan bahwa podcast memiliki peran signifikan sebagai media digital yang efisien dalam menggambarkan kehidupan sosial dan budaya lokal di zaman digital. Dengan pendekatan kualitatif menggunakan metode studi kasus, terungkap bahwa podcast “PDKT (Podcast di Koto Tuo)” berfungsi sebagai ruang strategis untuk menyampaikan narasi lokal, seperti sejarah, kuliner, cerita rakyat, serta nilai-nilai adat yang berkembang dalam masyarakat Nagari Koto Tuo.
Podcast berfungsi bukan hanya sebagai alat promosi budaya ke luar, tetapi juga sebagai media edukasi internal bagi generasi muda untuk memahami identitas dan sejarah daerah mereka sendiri. Penyampaian cerita dengan bahasa dan dialek lokal memberikan kekuatan otentik yang meningkatkan keterlibatan masyarakat. Walaupun menghadapi rintangan seperti kurangnya akses teknologi dan sumber daya, program podcast lokal tetap menunjukkan peluang besar dalam memperluas penyebaran cerita budaya dan mendorong keterlibatan aktif masyarakat.
Oleh karena itu, podcast bisa digunakan secara berkelanjutan sebagai sarana pelestarian budaya dan representasi sosial yang inklusif, kreatif, serta mudah diakses oleh berbagai kelompok, khususnya di komunitas lokal yang berusaha menjaga nilai-nilai budayanya di tengah perkembangan modern.
DAFTAR PUSTAKA
- Azhani, G. A., Purwanto, E., Lestari, D., Putri, M. N., & Cahyani, D. (2025). Media sebagai Agen Budaya: Podcast sebagai Sarana Edukasi dan Pelestarian Kearifan Lokal. Indonesian Culture and Religion Issues, 2(3), 15-15.
- Creswell, J. (2008). Educational Research. Planning, conducting, and evaluating quantitative and qualitative research. PearsonPrentice Hall
- Pratama, A. F., Darma, A. S., Nugraha, M. T., Assobah, M. L., Ramadhan, M. F., & Purwanto,
- E. (2025). Narasi Budaya dalam Podcast Komunikasi Adat di Indonesia. Indonesian Culture and Religion Issues, 2(3), 11-11.
- Syafrina, A. E. (2022). Penggunaan Podcast Sebagai Media Informasi Di Kalangan Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Bhayangkara Jakarta Raya. Jurnal Komunikasi, Masyarakat Dan Keamanan, 4(2), 10-22.
- Suhara, D., Mukarom, Z., Karim, M., Rosadi, A. A., & Zainuri, I. (2023). PEMANFAATAN PODCAST SEBAGAI MEDIA ALTERNATIF DALAM PENYAMPAIAN MATERI PENDIDIKAN ISLAM. JURNAL PENELITIAN PENDIDIKAN SOSIAL HUMANIORA, 8(2), 224-230.
Penulis: Fahridh Al Hakim, Gunawan Wibisono, Naswa Ulfiyah Putri, Nazwa Azahra, Raisa Fazila Bevinda
Mahasiswa KKN Universitas Negeri Padang









