ArtikelOpini

Pergeseran Bahasa Daerah dalam Masyarakat Bilingualisme

Avatar photo
135
×

Pergeseran Bahasa Daerah dalam Masyarakat Bilingualisme

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi pergeseran bahasa daerah dalam masyarakat bilingualisme.

NEWSFEED.ID, Tangsel — Bahasa tidak akan lepas hubungannya dengan bermasyarakat, melalui bahasa masyarakat dapat menunjukkan identitasnya dengan masyarakat lain. Namun, seiring perkembangan zaman, masyarakat cenderung menggunakan beberapa bahasa untuk berkomunikasi.

Contohnya saat berinteraksi didalam kelas seringkali mahasiswa menggunakan dua bahasa atau lebih, yaitu bahasa daerah, bahasa Indonesia, dan bahasa inggris, ini dinamakan masyarakat bilingualisme, yaitu masyarakat multibahasa yang menggunakan lebih dari dua bahasa atau lebih.

Fenomena pergesaran bahasa daerah akibat dominasi bahasa Indonesia dan bahasa asing merupakan ancaman serius terhadap keberlangsungan warisan budaya di era globalisasi. Fenomena ini terjadi akibat dominasi bahasa Indonesia dan bahasa asing dalam berbagai aspek kehidupan, seperti pendidikan, media massa, dan interaksi sosial.

Selain itu, faktor urbanisasi, mobilitas sosial, perubahan komunikasi pola keluarga, serta persepsi negatif, terhadap bahasa daerah turut mempercepat proses pergeseran. Salah satu faktor utama pergeseran bahasa daerah adalah gengsi sosial. Bahasa Indonesia dan bahasa asing, khususnya Inggris dan Korea (melalui budaya populer), dianggap lebih modern, berpendidikan, dan memiliki nilai ekonomi.

Sebaliknya, bahasa daerah kerap diasosiasikan dengan kampungan, kuno, atau tidak relevan dengan dunia profesional. Pandangan ini mendorong penutur muda untuk menyesuaikan diri dengan bahasa yang dianggap “naik kelas”, bahkan di lingkungan keluarga.

Pergeseran bahasa daerah dalam masyarakat bilingualisme merupakan fenomena yang umum terjadi, khususnya di Indonesia yang masyarakatnya terbiasa menggunakan lebih dari satu bahasa. Dalam situasi bilingual, masyarakat biasanya menguasai bahasa daerah sebagai bahasa pertama dan Bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua.

Namun, seiring berjalannya waktu, penggunaan Bahasa Indonesia semakin dominan dan perlahan menggantikan fungsi bahasa daerah dalam berbagai ranah kehidupan. Dalam masyarakat bilingual, pergeseran bahasa sering terjadi karena adanya pembagian fungsi bahasa.

Bahasa Indonesia digunakan dalam ranah formal seperti pendidikan, pekerjaan, dan administrasi, sementara bahasa daerah terbatas pada ranah informal seperti keluarga atau lingkungan dekat. Masalah muncul ketika bahasa daerah tidak lagi digunakan secara konsisten di rumah, sehingga generasi muda lebih terbiasa berbahasa Indonesia dan hanya memahami bahasa daerah secara pasif.

Dominasi bahasa Indonesia dan bahasa asing, terutama dikalangan anak muda dan remaja yang menyebabkan bahasa daerah terpinggirkan. Ada yang merasa menggunakan bahasa daerah di kota-kota besar seperti Jakarta akan mempermalukan mereka, dan merasa tidak pede untuk berinteraksi dengan teman-teman tongkrongan nya.

Contoh kasus di sudut kota Blok M. Dominan anak muda menggunakan bahasa Inggris dan Indonesia, tidak ada yang menggunakan bahasa daerah walaupun hanya sekedar selingan. Karena mereka akan merasa malu jika menggunakan bahasa daerah dengan dominasi bahasa Inggris di lingkungan tersebut.

Tidak hanya di tongkrongan, di lingkungan pekerjaan juga masyarakat diharuskan menggunakan bahasa indonesia dan menguasai bahasa asing. Hal tersebutlah yang menghilangkan indentitas bahasa daerah dalam masyarakat.

Masyarakat bilingualisme sebenarnya bukan faktor utama pergeseran bahasa daerah, ada beberapa faktor lain seperti telnologi dan masuknya bangsa asing ke daerah-daerah di Indonesia. Pergeseran bahasa daerah tidak harus terjadi jika masyarakat bilingualisme memiliki kesadaran penuh untuk mempertahankan warisan bahasanya.

Selama masyarakat memandang bahasa daerah sebagai bagian dari identitas budaya mereka yang tak ternilai, bilingulisme bukan lagi ancaman tetapi merupakan keberlangsungan bahasa daerah sebagai bahasa warisan ditengah-tengah perkembangan zaman.

Penulis: Erika Elda Siregar
Universitas Pamulang Tangerang Selatan

Editor: Fuad Parhan, Tim NewsFeed.id