NEWSFEED.ID, Surabaya — Perkembangan terkini teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) tengah memasuki babak baru dengan munculnya teknologi AI generatif komunikatif ChatGPT (General Pre-trained Transformer).
Kemampuan mesin tersebut dapat menjawab semua pertanyaan yang diajukan, menerjemahkan, mengoreksi, menulis kode pemograman, dan masih banyak lagi sehingga membuat penggunaanya semakin meluas.
Sebagian pekerjaan yang sebelumnya dilakukan oleh manusia kini menjadi relatif mudah dan cepat karena dikerjakan oleh AI. Peran manusia dalam berbagai tugas dan pekerjaan pelan-pelan mulai tergantikan di berbagai bidang bahkan di bidang pendidikan tinggi yang saat ini bukan merupakan pengecualian.
Sejumlah makalah ilmiah dibuat dengan ChatGPT sebagai pendamping penulisan, mulai banyak ditemukan makalah ilmiah yang bahkan menempatkan ChatGPT sebagai penulis utama.

Di dunia pendidikan, fenomena ini menimbulkan perpecahan pendapat. Ada yang mendukung (pro) dan menentang (kontra) terhadap penggunaan mesin AI seperti ChatGPT dalam analisis ilmiah, apakah tepat atau mengkhawatiran akibat penggunaan mesin ini.
Menurut Terryroszi (2025), AI bukan ancaman, melainkan tantangan yang harus dipelajari dan diterapkan secara strategis untuk kemajuan akademik. Sementara pakar pendidikan Ethan Mollick menganggap bahwa AI mengubah esensi pembelajaran jika tidak diatur dengan etika yang ketat.
Selain itu, penggunaan AI memicu dampak negatif antara lain, adanya kemungkinan praktik mencontek dan menimbulkan dampak negatif dalam proses pembelajaran.
Namun penggunaan AI juga harus diakui karena sesungguhnya bisa meningkatkan kualitas pendidikan dan pengajaran, kuncinya bergantung pada kajian awal yang dilakukan untuk menjaga berbagai potensi positif dan negatifnya dan memahami hakikat teknologi Ai serta dampaknya bagi praktik pendidikan tinggi, sehingga pendampingan dan pendekatan pembelajaran dapat digabungkan dengan perkembangan teknologi khususnya AI seperti ChatGPT.
Penulis: Achava Makayla Xaviera, Mahasiswa Universitas Airlangga











