NEWSFEED.ID, Surabaya — Pendidikan kita hari ini sedang menghadapi sebuah “tsunami senyap”. Tanpa kita sadari, ruang-ruang kelas yang dulunya menjadi arena dialektika tempat gagasan diuji, kini perlahan berubah menjadi ruang sunyi tempat jari-jari menari di atas layar.
Data terbaru dari Kementerian Komunikasi dan Digital per akhir 2024 mencatat angka yang meresahkan: 87 persen pelajar Indonesia kini aktif menggunakan Artificial Intelligence untuk mengerjakan tugas sekolah. Di permukaan, fenomena ini tampak sebagai “boom” literasi digital yang menjanjikan eskalasi kompetensi.
Namun, jika kita menyelami lebih dalam, angka tersebut berpotensi menjadi “bumerang” yang menyimpan bom waktu kognitif. Kita sedang berdiri di persimpangan jalan yang krusial: apakah teknologi ini akan melahirkan generasi arsitek peradaban, atau justru menciptakan “generasi operator” yang gagap berpikir tanpa bantuan mesin?
Kecemasan ini bukan tanpa dasar. Kenyamanan instan yang ditawarkan AI seringkali menghanyutkan daya kritis siswa, menciptakan apa yang disebut sebagai ilusi kompetensi. Siswa merasa mampu menyelesaikan masalah kompleks, padahal sesungguhnya algoritma mesin lah yang bekerja.
Sebuah studi yang dipublikasikan dalam Jurnal Didaktika Kependidikan edisi Februari 2025 mengonfirmasi kekhawatiran ini, di mana 79,3 persen mahasiswa responden mengakui bahwa ketergantungan berlebih pada AI membuat kemampuan berpikir kritis mereka terasa tumpul. Mereka menjadi sangat ahli dalam memberi perintah, akan tetapi tergagap saat diminta mempertahankan argumen secara lisan tanpa bantuan gawai.
Jika dibiarkan, fenomena ini akan melahirkan angkatan kerja yang pasif; mereka yang menjadikan AI bukan sebagai tongkat bantu untuk berjalan lebih cepat, melainkan tongkat ketiak yang membuat mereka lumpuh jika alat itu dicabut.
Lebih jauh lagi, persoalan ini merembet pada krisis integritas akademik yang kian samar batasnya. Laporan Survei Penilaian Integritas Pendidikan yang dirilis Komisi Pemberantasan Korupsi pada pertengahan 2024 menyoroti bahwa 43 persen responden di lingkungan kampus mengakui adanya praktik plagiarisme.
Angka ini diprediksi kian kabur di tahun 2025 karena kecanggihan alat parafrase berbasis AI yang mampu memoles naskah curian menjadi seolah orisinal. Plagiarisme kini bukan lagi sekadar menyalin teks mentah, melainkan kolaborasi diam-diam yang mematikan orisinalitas. Kita sedang menghadapi risiko moral di mana nilai kejujuran tergerus oleh efisiensi, dan proses belajar direduksi sekadar menjadi formalitas pengumpulan tugas.
Merespons gelombang perubahan ini, pemerintah memang telah mengambil langkah taktis. Melalui Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025, mata pelajaran Coding dan Kecerdasan Artifisial resmi masuk kurikulum pilihan mulai tahun ajaran 2025/2026. Ini adalah sinyal positif bahwa negara hadir untuk mengarahkan teknologi, bukan memusuhinya.
Namun, perubahan kurikulum hanyalah infrastruktur; yang lebih mendesak adalah perubahan kultur dan metode evaluasi. Guru tidak lagi cukup hanya berperan sebagai penyampai informasi – peran yang sudah diambil alih oleh mesin – melainkan harus berevolusi menjadi “dirigen” diskusi yang memancing daya nalar. Metode evaluasi berbasis esai teks yang mudah dimanipulasi harus segera digeser menuju ujian lisan, debat terbuka, dan pemecahan masalah nyata.
Pada akhirnya, integrasi AI dalam pendidikan adalah pedang bermata dua. Sejalan dengan pesan UNESCO pada Hari Pendidikan Internasional 2025, teknologi harus tetap berpusat pada manusia. Jika dikelola dengan regulasi yang tepat dan pedagogi yang kritis, AI akan menjadi “boom” yang melesatkan kualitas SDM kita menuju Indonesia Emas 2045.
Namun, jika kita membiarkannya berjalan tanpa kendali etika, ia akan menjadi “bumerang” yang menghantam balik kita: melahirkan generasi yang kehilangan otonomi berpikir. Pilihan ada di tangan kita hari ini, menjadikan AI sebagai mitra berpikir yang setara, atau membiarkannya menjadi tuan atas akal sehat kita.
DAFTAR PUSTAKA
- Parlier, R. (2025). UNESCO dedicates the International Day of Education 2025 to artificial. UNESCO.org. https://www.unesco.org/en/articles/unesco-dedicates-international-day-education-2025-artificial-intelligence
- Dhanya, D. (2025, October 22). AI users in Indonesia reach 59 percent, industry records increased activity. Tempo. https://en.tempo.co/read/2059237/ai-users-in-indonesia-reach-59-percent-industry-records-increased-activity
- Susilo, E. (2024, May 1). Hasil survei KPK, integritas di Sekolah Masih Lemah – Jawa pos. Jawa Pos. https://www.jawapos.com/nasional/014603240/hasil-survei-kpk-integritas-di-sekolah-masih-lemah
- Kaban, H. D. K. (2024, November 11). Mendikdasmen Siapkan Mata pelajaran ai Dan Coding Di SD Hingga SMP. ANTARA News Jawa Timur. https://jatim.antaranews.com/berita/845201/mendikdasmen-siapkan-mata-pelajaran-ai-dan-coding-di-sd-hingga-smp
- Mulianingsih, M. (2025, April 29). Mendikdasmen Akan Masukkan Mata pelajaran coding Dan ai Sejak Kelas 5 SD. detiknews. https://news.detik.com/berita/d-7891957/mendikdasmen-akan-masukkan-mata-pelajaran-coding-dan-ai-sejak-kelas-5-sd
- Unesco. (2025, February 18). International Day of Education 2025: AI and education – preserving. UNESCO.org. https://www.unesco.org/en/articles/international-day-education-2025-ai-and-education-preserving-human-agency-world-automation
Penulis: Faiz Alham Subhi, Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Airlangga











