NEWSFEED.ID, Jakarta — Apakah kita pernah berpikir, mengapa ada lulusan yang tampak pintar secara teori, namun kurang cakap dalam praktik? Jawabannya sederhana: perkembangan zaman melaju lebih pesat dari isi pelajaran sekolah.
Sekarang, perusahaan di seluruh dunia memerlukan lebih dari sekadar hafalan rumus; mereka mencari individu yang mampu mencari solusi, menciptakan ide baru, bekerja dalam tim, menyesuaikan diri, dan tangguh menghadapi tantangan.
Keterampilan ini jauh lebih berharga daripada sekadar prestasi di sekolah. Gagasan 8 Dimensi Profil Lulusan (8 DPL) dalam sistem pendidikan kita hadir untuk mengatasi persoalan ini.
Akibat pergeseran teknologi, globalisasi, dan kebutuhan pasar kerja global, pendidikan di Indonesia harus segera berubah. Menurut Laporan Future of Jobs (WEF, 2023), kemampuan yang sangat penting di masa depan adalah pemikiran analitis, kreativitas, fleksibilitas, dan ketahanan mental; kemampuan yang mencakup lebih dari hanya kemampuan kognitif.
Untuk mengatasi hal ini, sebagai kelanjutan dari Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), Indonesia meluncurkan gagasan 8 Dimensi Profil Lulusan (DPL). DPL bertujuan untuk menghasilkan lulusan yang berkarakter, adaptif, dan memiliki keterampilan lintas konteks.
Secara spesifik, 8 Dimensi Profil Lulusan mencakup aspek-aspek seperti beriman dan bertakwa, mandiri, bernalar kritis, kreatif, bergotong royong, berintegritas, peduli lingkungan, dan berwawasan global. Dimensi-dimensi ini dirancang untuk membentuk siswa yang tidak hanya menguasai pengetahuan akademik, tetapi juga mampu menerapkan keterampilan hidup dalam berbagai situasi.
Paradigma perubahan menuntut pergeseran dari mengejar nilai ujian menuju pembelajaran berbasis kompetensi. Ide ini diperkuat oleh hasil PISA 2022, yang menunjukkan bahwa siswa Indonesia memiliki tingkat literasi dan numerasi yang rendah, yang menunjukkan bahwa sistem pendidikan tidak mempersiapkan siswa untuk berpikir kritis.
Tantangan Manajemen Pendidikan 8 DPL sulit diterapkan jika: Sistem masih terpusat dan kaku, evaluasi masih bergantung pada hasil ujian, dan guru tidak memberikan dukungan proyek asli. Menurut Kementerian Pendidikan (2023), integrasi antarmata pelajaran adalah syarat dasar PBL, tetapi hanya 40% sekolah dapat melakukannya dalam satu semester.
Belajar dari Negara Maju Finlandia yang Menerapkan Pembelajaran Berbasis Phenomena, Guru sangat otonom, lulusan Master, pembelajaran lintas disiplin. Begitu juga Negara Singapura yang Melatih guru dengan SkillsFuture for Educators, Fokus penilaian pada penerapa konsep, dan PBL diterapkan secara sistematis. Indonesia dapat meniru desentralisasi kurikulum dan pelatihan guru intensif.
Strategi Implementasi:
- Komunitas Belajar Profesional (KBP) guru membantu merancang, menguji, dan merefleksi proyek PBL.
- Integrasi Proyek Lintas Bidang Waktu (IPTB), blok waktu dua minggu setiap semester, adalah fokus proyek interdisipliner.
- Proyek Canvas Digital PBL tidak sekadar membuat produk, tetapi berdampak nyata.
Dampak positif yang dihasilkan oleh PBL asli meliputi peningkatan critical thinking sebesar 15%, peningkatan kemampuan untuk menyelesaikan masalah, dan peningkatan relevansi pembelajaran (Studi Purdue, 2022).
Selain itu, PBL juga meningkatkan motivasi siswa dan kemampuan kolaborasi, yang penting untuk dunia kerja modern. Dengan pendekatan ini, siswa belajar melalui pengalaman nyata, seperti proyek lingkungan atau inovasi teknologi, yang membuat pembelajaran lebih menarik dan berkesan.
Kesimpulan 8 DPL adalah langkah strategis, tetapi hal-hal berikut adalah kunci keberhasilan seperti otonomi guru, pelatihan intensif, kurikulum fleksibel, dan PBL asli. Indonesia memiliki kemampuan untuk menghasilkan siswa yang fleksibel dan berdaya saing di seluruh dunia jika program ini dilaksanakan dengan benar.
Untuk itu, diperlukan komitmen dari semua pihak, termasuk pemerintah, sekolah, dan masyarakat, agar perubahan ini tidak hanya menjadi wacana, tetapi benar-benar membawa dampak positif bagi generasi mendatang. Dengan investasi yang tepat, pendidikan Indonesia bisa menjadi contoh bagi dunia dalam menghadapi tantangan abad ke-21.
Penulis: Zakiah Ramadani
Mahasiswi Program Studi Manajemen Pendidikan
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta











