NEWSFEED.ID, Surabaya — Awalnya sederhana, Salt bread dikenal sebagai roti asin dengan tekstur crunchy di luar, lembut didalam dengan aroma mentega yang kuat, dan rasa gurih yang jadi penyeimbang sempurna untuk kopi atau teh. Tidak neko-neko, tidak berisik. Tapi belakangan ini, salt bread tampaknya tidak lagi puas hanya menjadi “roti asin yang aman”. Ia mulai berubah menjadi panggung eksperimen rasa, tempat manis, creamy, chewy, dan viral yang saling berebut perhatian.
Fenomena ini terasa jelas di media sosial. Salt bread kini tidak hanya dimakan apa adanya, tetapi dipasangkan dengan mochi, red bean, cookies, es krim, bahkan cheesecake. Dari roti pendamping minum kopi, salt bread perlahan bergeser ke wilayah dessert. Enak untuk yang suka eksplor rasa, tapi cukup bikin berhenti sejenak dan bertanya “ini roti asin atau kue ya?”
1. Saat Salt Bread bertemu Mochi dan Red Bean

Salah satu kombinasi yang banyak mencuri perhatian adalah salt bread dengan isian mochi dan red bean. Tekstur roti yang crunchy dan lembut bertemu dengan kenyalnya mochi, lalu diselingi rasa manis khas kacang merah. Ada sentuhan macha yang membuat rasa pahit tipis ikut hadir, seolah mengingatkan bahwa ini bukan dessert biasa. Salt bread tidak lagi hanya berfungsi sebagai roti asin, melainkan dasar yang menampung tekstur dan rasa. Bagi sebagian orang, variasi ini memberikan pengalaman makan yang menarik karena menghadirkan kontras antara asin, manis, dan kenyal dalam satu gigitan.
2. Salt Bread + Matcha Cold Foam

Eksperimen lain membawa salt bread lebih dekat ke dunia minuman, dipadukan dengan macha latte, cold foam, dan sea salt cream, salt bread tidak lagi berdiri sendiri. Ia menjadi pelengkap ritual ngopi atau ngeteh ala kafe kekinian. Rasa asin dan buttery dari salt bread membantu menyeimbangkan karakter matcha yang earthy dan foam yang creamy. Rasanya tetap menarik, tapi pertanyaannya muncul: apakah salt bread masih dibutuhkan di sini, atau hanya jadi aksesoris tren?
3. Cookies di atas Salt Bread

Di Bali, salt bread bahkan tampil dengan topping soft cookies di atasnya. Basis sourdough yang lembut dipadukan dengan cookies yang manis. Pada kombinasi ini, rasa salt bread cenderung tertutup oleh dominasi rasa manis dari cookies. Namun, tekstur roti yang empuk menjadi dasar yang mendukung. Hingga salt bread tidak lagi berdiri sebagai roti asin klasik, melainkan menjadi penopang bagi variasi rasa yang lebih manis dan kaya.
4. Coffee Bun Salt Bread

Tidak semua kreasi salt bread berhenti sebagai konten viral. Sebagian justru melangkah lebih jauh dan resmi masuk ke menu bakery. Hal ini terlihat dari pengumuman “Officially on the menu!” oleh sebuah home bakery di Bandung, yang menempatkan salt bread sebagai produk tetap yang berdampingan dengan topping coffee bun di atasnya yang buat makin menarik. Menariknya, salt bread tidak bergantung pada gimmick berlebihan. Identitas rasa asin dan aroma menteganya justru menjadi nilai utama, sekaligus mempertegas perannya sebagai bagian dari pengalaman ngopi, bukan sekadar tren sesaat. Di tengah maraknya versi manis dan dessert-style, salt bread sederhana tetap menemukan tempatnya sendiri di hati konsumen.
5. Salt Bread dengan Ice Cream

Salt bread dipadukan dengan ice cream, menciptakan sensasi panas-dingin, asin-manis, dan lembut-renyah dari balutan coklat pada ice cream dalam satu gigitan. Kombinasi ini terdengar berlebihan, tapi justru disitulah daya tariknya. Tren ini relatif mudah ditiru dan tidak memerlukan teknik khusus, sehingga mendorong partisipasi konsumen secara langsung. Salt bread telah menjadi roti asin yang dapat dikombinasikan sesuai selera masing-masing.
Melihat berbagai eksperimen yang muncul, satu hal yang menjadi semakin jelas, salt bread ga lagi hadir dalam satu bentuk yang tunggal. Roti asin ini berkembang menjadi ruang eksplorasi, tempat rasa, tekstur, dan cara konsumsi yang terus di utak-atik. Ada salt bread yang tetap setia dengan karakter aslinya yang asin, buttery, dan sederhana, namun ada juga yang berubah melalui isian mochi, topping cookies, paduan matcha, hingga disandingkan dengan es krim sebagai bentuk hack rumahan.
Perubahan ini tidak menjadikan salt bread kehilangan identitasnya, justru salt bread memperluas identitasnya. Salt bread menjadi fleksibel, mudah beradaptasi, dan terbuka terhadap interpretasi baru. Ia bisa bisa sebagai roti pendamping kopi, dessert ringan, camilan viral, atau bahkan menu utama bakery.
Setiap variasi menghadirkan pengalaman yang berbeda, tanpa harus sepenuhnya menghapus rasa aslinya yang gurih. Salt bread sekarang adalah cerminan tren kuliner untuk yang suka bereksperimen, gemar mencoba hal baru, dan tidak terlalu takut kehilangan bentuk asli. Tidak semua kombinasi harus masuk akal. Tapi selama masih bikin orang penasaran dan ingin mencoba, takeover ini tampaknya belum akan berhenti.
Penulis: Felicia Justine
Mahasiswa Universitas Ciputra









