ArtikelOpini

Kesenjangan Akses Pendidikan Antara di Kota dan di Daerah Pelosok

Avatar photo
107
×

Kesenjangan Akses Pendidikan Antara di Kota dan di Daerah Pelosok

Sebarkan artikel ini
Potret sekolah di Pelosok Indonesia.

NEWSFEED.ID, Jakarta — Pendidikan adalah fondasi utama pembangunan sumber daya manusia (SDM) suatu bangsa, berfungsi sebagai kunci mobilitas sosial dan akselerator kemajuan ekonomi. Dalam konteks Indonesia, pendidikan yang berkualitas menjadi penentu daya saing global dan keberlanjutan pembangunan.

Namun, realitas di lapangan menunjukkan adanya ketimpangan akses, kualitas, dan fasilitas pendidikan yang sangat tajam antara wilayah perkotaan yang sudah maju dan daerah-daerah pelosok, terpencil, dan tertinggal (3T). Ketimpangan ini tidak hanya mencerminkan masalah geografis, tetapi juga masalah struktural dan politis.

Ketimpangan ini berdampak serius pada hasil belajar siswa: mulai dari rendahnya kualitas pembelajaran yang diterima anak-anak di daerah terpencil akibat ketiadaan guru ahli dan fasilitas penunjang, yang berujung pada skor literasi dan numerasi yang jauh di bawah standar nasional.

Kesenjangan ini juga membatasi mobilitas sosial bagi generasi muda karena lulusan sekolah pelosok seringkali kalah bersaing untuk mendapatkan akses ke perguruan tinggi unggulan atau lapangan kerja yang layak. Pada akhirnya, kondisi ini memperparah ketidakmerataan pembangunan nasional secara keseluruhan, menciptakan lingkaran kemiskinan dan keterbelakangan yang sulit diputus.

Artikel ini bertujuan untuk mengidentifikasi akar penyebab kesenjangan tersebut secara komprehensif, menyajikan tantangan yang dihadapi berdasarkan data empiris (jika memungkinkan), dan menawarkan solusi sistematis untuk mewujudkan pendidikan yang adil dan merata bagi seluruh anak bangsa.

Tantangan Pendidikan di Daerah Pelosok

Banyak sekolah di daerah terpencil masih jauh dari standar minimum kelayakan yang ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan. Fasilitas dasar seperti gedung sekolah yang layak, ruang kelas yang memadai, sanitasi yang bersih, laboratorium IPA/Komputer, dan perpustakaan seringkali minim, rusak, atau bahkan tidak ada, memaksa kegiatan belajar mengajar berlangsung dalam kondisi yang tidak kondusif.

Lebih lanjut, puluhan ribu sekolah masih beroperasi tanpa akses listrik yang stabil dan sebagian besar tanpa koneksi internet yang memadai. Kondisi infrastruktur yang buruk ini secara langsung membatasi metode pengajaran, membuat guru kesulitan menggunakan media modern, dan menghalangi siswa untuk mengakses sumber belajar digital yang kini melimpah.

Faktor geografis dan minimnya infrastruktur transportasi memainkan peran besar sebagai penghalang fisik. Jarak sekolah yang jauh (lebih dari 5 km) dan medan yang sulit dilalui—terutama daerah pegunungan, hutan lebat, atau saat musim hujan di wilayah non-aspal—menciptakan risiko tinggi bagi siswa.

Banyak siswa harus menempuh perjalanan kaki yang lama atau menggunakan perahu, yang menyebabkan tingginya angka ketidakhadiran dan keterlambatan. Tantangan ini tidak hanya memengaruhi siswa, tetapi juga mempersulit pengiriman logistik pendidikan (buku, alat peraga) dan pengawasan dari dinas pendidikan daerah.Banyak

Distribusi guru yang tidak merata menjadi masalah paling krusial. Guru-guru berkualitas, bersertifikasi, dan berpengalaman cenderung menumpuk di kawasan perkotaan karena alasan kenyamanan hidup, fasilitas, dan jenjang karir yang lebih jelas.

Akibatnya, daerah pelosok sangat bergantung pada guru honorer yang direkrut seadanya, seringkali dengan kualifikasi pendidikan dan pelatihan yang minim. Rasio guru-murid di pelosok terkadang sangat rendah, tetapi ketersediaan guru mata pelajaran spesifik (seperti Bahasa Inggris atau Matematika) juga sering kosong. Kondisi ini secara langsung menurunkan dan membuat kualitas pembelajaran menjadi tidak konsisten dan bergantung pada kemampuan otodidak guru honorer tersebut.

Kondisi ekonomi keluarga yang lemah seringkali memicu masalah pendidikan. Orang tua dengan pekerjaan informal atau pendapatan harian yang tidak menentu seringkali tidak mampu membiayai perlengkapan sekolah dasar, seragam, atau bahkan sekadar uang saku. Lebih parah, tekanan ekonomi memaksa anak-anak untuk bekerja membantu keluarga (misalnya, menjadi buruh tani, mencari ikan, atau menjaga adik) sehingga waktu belajar mereka berkurang drastis atau bahkan memilih untuk putus sekolah. Fenomena ini menunjukkan bahwa masalah pendidikan di pelosok tidak bisa dipisahkan dari isu kemiskinan struktural.merata. Selain itu, koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah masih belum optimal sehingga beberapa program tidak berjalan maksimal.

Meskipun ada program bantuan seperti Bantuan Operasional Sekolah (BOS), implementasinya di daerah pelosok seringkali menghadapi masalah birokrasi, pencairan dana yang terlambat, dan pengawasan yang lemah. Program pemerintah seperti PJJ (Program Jarak Jauh) atau pemerataan guru seringkali belum optimal dan tidak merata distribusinya, bahkan terhenti karena alasan logistik dan anggaran. Koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah sering tumpang tindih atau kurang maksimal, menghambat kecepatan implementasi kebijakan afirmatif yang seharusnya diprioritaskan untuk daerah 3T.

Kondisi ekonomi keluarga yang lemah seringkali memicu masalah pendidikan. Orang tua dengan pekerjaan informal atau pendapatan harian yang tidak menentu seringkali tidak mampu membiayai perlengkapan sekolah dasar, seragam, atau bahkan sekadar uang saku. Lebih parah, tekanan ekonomi memaksa anak-anak untuk bekerja membantu keluarga (misalnya, menjadi buruh tani, mencari ikan, atau menjaga adik) sehingga waktu belajar mereka berkurang drastis atau bahkan memilih untuk putus sekolah. Fenomena ini menunjukkan bahwa masalah pendidikan di pelosok tidak bisa dipisahkan dari isu kemiskinan struktural.

Meskipun ada program bantuan seperti Bantuan Operasional Sekolah (BOS), implementasinya di daerah pelosok seringkali menghadapi masalah birokrasi, pencairan dana yang terlambat, dan pengawasan yang lemah. Program pemerintah seperti PJJ (Program Jarak Jauh) atau pemerataan guru seringkali belum optimal dan tidak merata distribusinya, bahkan terhenti karena alasan logistik dan anggaran. Koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah sering tumpang tindih atau kurang maksimal, menghambat kecepatan implementasi kebijakan afirmatif yang seharusnya diprioritaskan untuk daerah 3T.

Solusi untuk Mengurangi Kesenjangan Pendidikan

Pemerintah harus memprioritaskan pembangunan dan rehabilitasi sekolah yang berstandar minimum, fokus pada kebutuhan spesifik daerah 3T. Hal ini mencakup penyediaan listrik non-stop, akses internet berbasis satelit atau fiber optik, serta fasilitas penunjang yang esensial seperti laboratorium sederhana, perpustakaan mini dengan koleksi buku yang relevan, dan perbaikan sanitasi. Prioritas harus diberikan pada sekolah yang menjadi simpul layanan pendidikan untuk beberapa desa terdekat.

Strategi insentif harus diperkuat. Diperlukan insentif khusus yang lebih menarik dan komprehensif (tunjangan kemahalan, tunjangan terpencil, fasilitas perumahan, kemudahan naik pangkat/karir) bagi guru yang bersedia ditempatkan dan bertahan di daerah pelosok minimal lima tahun. Selain itu, Program Guru Penggerak dan pelatihan berkelanjutan harus difokuskan pada daerah 3T, menggunakan model pelatihan yang adaptif terhadap keterbatasan akses (misalnya, pelatihan modular offline), untuk meningkatkan kompetensi dan profesionalisme guru honorer yang sudah ada.

Strategi EdTech harus realistis. Pengadaan perangkat digital (komputer, tablet) yang tahan banting dan pemasangan WiFi desa atau router satelit yang terpusat di sekolah adalah langkah penting. Namun, solusi kuncinya adalah pengembangan konten belajar offline dan kurikulum adaptif yang dapat diakses melalui server lokal sekolah, flash drive, atau media cetak yang dirancang secara interaktif. Model ini memastikan materi berkualitas tetap dapat diakses meskipun koneksi internet tidak stabil atau tidak ada.

Kesenjangan tidak bisa diselesaikan hanya oleh pemerintah. Perlu ada kolaborasi erat antara Pemerintah, Komunitas (tokoh adat, orang tua siswa), dan Swasta. Perusahaan melalui program CSR dapat mengadopsi sekolah (program adopting school) untuk fokus pada pembangunan infrastruktur dan penyediaan beasiswa. Program relawan pendidikan yang terstruktur dan didukung oleh universitas atau organisasi nirlaba juga dapat menjembatani kekurangan tenaga pendidik ahli secara bergilir dan berkelanjutan.

Pemerintah perlu memastikan alokasi anggaran khusus (dana afirmatif) untuk pemerataan pendidikan di daerah pelosok yang jauh lebih besar per kapita dibandingkan daerah kota. Kebijakan afirmasi harus diterapkan secara menyeluruh, tidak hanya dalam penerimaan siswa baru ke perguruan tinggi (misalnya melalui jalur khusus), tetapi juga dalam pengangkatan guru PNS/PPPK. Selain itu, transparansi dan akuntabilitas penggunaan dana BOS harus diperkuat melalui pengawasan partisipatif.

Studi Kasus dan Inspirasi

Program seperti “Sekolah Garis Depan” (sebelumnya dikenal sebagai SM3T) di Indonesia merupakan contoh penempatan guru-guru terbaik yang baru lulus di daerah terpencil. Meskipun telah memberikan dampak positif, efektivitas program harus dievaluasi dengan memastikan adanya keberlanjutan pasca penugasan guru, misalnya dengan memberikan prioritas pengangkatan bagi guru-guru yang berhasil.

Negara seperti Vietnam dan Malaysia telah menunjukkan komitmen kuat dalam pemerataan pendidikan di wilayah rural mereka, melalui pembangunan sekolah terpusat (sekolah asrama) yang menjangkau beberapa desa terdekat, serta sistem insentif dan rotasi yang kuat untuk guru. Model boarding school di daerah terpencil dapat menjadi solusi untuk mengatasi hambatan geografis dan ekonomi.

Pemanfaatan teknologi pendidikan sebagai solusi hybrid—menggabungkan tatap muka dengan sumber daya digital yang dapat diakses secara offline—telah terbukti efektif di beberapa wilayah terpencil. Contohnya adalah penggunaan “sekolah digital portabel” yang dapat dibawa oleh guru ke lokasi yang sulit dijangkau, memungkinkan penyediaan materi ajar berkualitas tanpa bergantung pada jaringan internet.

Simpulan dan Rekomendasi

Kesenjangan akses pendidikan antara kota dan daerah pelosok disebabkan oleh keterbatasan infrastruktur, distribusi guru yang tidak merata, hambatan geografis, minimnya akses teknologi, serta kondisi sosial ekonomi yang rendah. Tantangan ini menimbulkan ketidaksetaraan kesempatan belajar dan memperlambat pemerataan pembangunan nasional.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, diperlukan upaya sistematis melalui pemerataan infrastruktur pendidikan, peningkatan kualitas dan distribusi guru, pemanfaatan teknologi, serta kolaborasi lintas sektor. Kebijakan afirmatif dan pendanaan khusus harus diperkuat untuk memastikan pemerataan pendidikan berlangsung efektif.

Pemerataan akses pendidikan adalah langkah penting untuk mewujudkan Indonesia yang adil, maju, dan berkelanjutan. Dengan memberikan kesempatan belajar yang sama bagi seluruh anak bangsa, tanpa memandang lokasi tinggalnya, Indonesia dapat membangun generasi yang berdaya saing dan siap menghadapi tantangan masa depan.

Penulis:, Lidya Ramadhani (1251100181), Mahasiswi Program Studi Manajemen Pendidikan UIN Syarif Hidayatullah

Editor: Fuad Parhan, Tim NewsFeed.id