NEWSFEED.ID, Surabaya — Chelsea Tiara Dwi Trisyana (1152400119), mahasiswa Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG), menganalisis implementasi komunikasi organisasi pada era digitalisasi yang terjadi di PT Gojek Indonesia, pada Senin (22/12/2025). Analisis ini bertujuan untuk melihat seberapa penting implementasi teknologi pada sebuah organisasi di era digitalisasi saat ini.
Perkembangan teknologi di era digital telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk cara organisasi menjalankan komunikasinya. Di era digitalisasi, komunikasi organisasi tidak lagi terbatas pada pertemuan tatap muka atau surat-menyurat formal, melainkan telah beralih melalui platform digital yang memungkinkan penyampaian informasi secara cepat dan luas. Perubahan ini menuntut organisasi untuk mampu beradaptasi agar komunikasi internal maupun eksternal berjalan secara efektif.
Komunikasi organisasi adalah pertukaran dan penerimaan berbagai pesan organisasi di dalam kelompok formal maupun informal untuk mencapai tujuan bersama. Menurut Drs. Widiyatmo Ekoputro, M.A., dosen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya, dalam konteks teknologi, implementasi komunikasi sangat penting untuk membantu kinerja organisasi. Hadirnya teknologi komunikasi seperti email, aplikasi pesan instan, platform kolaborasi kerja, hingga media sosial membuat komunikasi semakin efisien di era digitalisasi.
Sebagai kasus nyata yang terjadi di PT Gojek Indonesia, wabah Covid-19 mendorong perubahan pada struktur komunikasi internal perusahaan. Karyawan diharuskan bekerja dari rumah (WFH), sehingga fungsi komunikasi yang semula berada dalam divisi Human Resources Development (HRD) dialihkan ke fungsi Corporate Affairs yang berfokus pada pengelolaan komunikasi, hubungan masyarakat, kebijakan publik, serta hubungan dengan pemangku kepentingan internal maupun eksternal.
Bergabungnya Gojek dengan GoTo Group bertujuan agar proses penyampaian informasi, kebijakan, serta keterlibatan karyawan tetap terjaga meskipun sistem kerja dilakukan secara hybrid. Di tengah pembatasan aktivitas fisik, perusahaan terpaksa mengalihkan hampir seluruh proses komunikasinya ke platform digital. Gojek kemudian mengandalkan Slack sebagai media komunikasi internal utama, Google Meet untuk rapat daring, serta email korporat untuk penyampaian informasi resmi dari manajemen.
Kemudahan yang ditawarkan dari implementasi komunikasi organisasi berbasis digital tidak terlepas dari berbagai tantangan. Pembatasan aktivitas karyawan serta minimnya interaksi tatap muka dalam komunikasi digital membuat sebagian karyawan merasa kurang terhubung secara emosional dengan tim dan organisasi. Menanggapi kondisi tersebut, manajemen Gojek melakukan penyesuaian strategi komunikasi organisasi.
Corporate Affairs bekerja sama dengan Departemen Sumber Daya Manusia (SDM) untuk mengemas berbagai agenda internal agar tetap terkoneksi dengan seluruh karyawan, termasuk CEO, seperti melalui kegiatan town hall meeting. Dengan motto perusahaan untuk memastikan setiap karyawan tetap engaged, Nila selaku Chief Corporate Affairs Gojek (GoTo Group) menyatakan bahwa “engagement yang dilakukan perusahaan kepada karyawan dilakukan dengan memastikan mereka paham akan apa yang terjadi seputar perusahaan.” Hal ini mampu menciptakan pemahaman menyeluruh bagi karyawan mengenai tujuan yang ingin dicapai dari setiap aktivitas, serta nilai dan pedoman yang dimiliki perusahaan.
Sementara itu, menurut Chelsea Tiara Dwi Trisyana (1152400119), mahasiswa Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG), kasus PT Gojek Indonesia menunjukkan bahwa digitalisasi komunikasi organisasi dapat berjalan dengan baik apabila didukung oleh kebijakan yang jelas dan struktur komunikasi yang terarah. Peralihan fungsi komunikasi internal ke Corporate Affairs serta pemanfaatan platform digital seperti Slack, Google Meet, dan email korporat menjadi langkah strategis dalam menjaga kelancaran arus informasi di tengah sistem kerja hybrid. Upaya tersebut juga memperlihatkan pentingnya peran manajemen dalam memastikan keterlibatan karyawan tetap terjaga meskipun interaksi fisik terbatas.
Dengan demikian, komunikasi organisasi di era digital bukan hanya tentang kecepatan dan efisiensi penyampaian pesan, tetapi juga tentang membangun pemahaman, keterhubungan emosional, dan kesamaan tujuan di dalam organisasi. Organisasi yang mampu menyeimbangkan pemanfaatan teknologi dengan pendekatan komunikasi yang humanis akan lebih siap menghadapi tantangan perubahan dan mencapai tujuan bersama secara berkelanjutan.
Penulis: Chelsea Tiara Dwi Trisyana (1152400119)
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG)









