ArtikelOpini

Bahasa Netizen dan Wajah Baru Komunikasi Publik di Media Sosial

Avatar photo
270
×

Bahasa Netizen dan Wajah Baru Komunikasi Publik di Media Sosial

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi percakapan netizen di media sosial dengan beragam ekspresi dan sudut pandang. (Dok. Unsplash)

NEWSFEED.ID, Jakarta — Saya sering menghabiskan waktu membaca kolom komentar di media sosial. Bukan untuk ikut berdebat, melainkan untuk mengamati cara orang berbicara. Dari unggahan berita politik, isu sosial, hingga video hiburan, kolom komentar selalu dipenuhi beragam ekspresi: marah, sarkastik, emosional, bahkan kasar. Dari sana saya menyadari bahwa media sosial telah membentuk wajah baru komunikasi publik—dan bahasa netizen menjadi cerminnya.

Dalam kajian sosiolinguistik, bahasa tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu terikat pada konteks sosial, identitas penutur, relasi kuasa, dan situasi komunikasi. Media sosial menghadirkan konteks yang unik: ruang publik tanpa tatap muka, tanpa batas geografis, dan sering kali dilindungi oleh anonimitas. Kondisi ini membuat bahasa yang digunakan netizen cenderung lebih ekspresif, spontan, dan lepas dari kaidah bahasa baku.

Saya melihat fenomena ini dengan jelas dalam berbagai kasus viral. Salah satunya ketika seorang atlet perempuan Indonesia mendapat hujan komentar body shaming setelah penampilannya disorot kamera saat pertandingan internasional. Alih-alih membahas prestasi, kolom komentar justru dipenuhi ejekan fisik yang dibungkus candaan. Ketika ada yang menegur, respons yang muncul justru, “namanya juga bercanda,” atau “terlalu baper.” Dalam perspektif sosiolinguistik, kasus ini menunjukkan bagaimana pilihan leksikal digunakan untuk mengalihkan fokus dari substansi ke tubuh, serta bagaimana humor dipakai untuk menormalisasi perendahan.

Fenomena serupa juga terlihat dalam berbagai isu viral lain, seperti Citayam Fashion Week. Ruang ekspresi anak muda itu awalnya dirayakan sebagai kreativitas jalanan. Namun, tak lama kemudian, kolom komentar media sosial dipenuhi sarkasme, stereotip kelas sosial, dan ejekan terhadap logat serta penampilan. Bahasa menjadi alat penanda “kami” dan “mereka”. Dalam kajian sosiolinguistik, praktik ini menunjukkan bagaimana bahasa berfungsi sebagai simbol identitas sekaligus alat eksklusi sosial.

Media sosial mendorong gaya bahasa yang cepat dan padat emosi. Sarkasme, metafora kasar, dan singkatan menjadi strategi populer untuk menyampaikan sikap. Namun, strategi ini sering kali bersifat ambigu. Apa yang dimaksud bercanda oleh satu pihak bisa diterima sebagai penghinaan oleh pihak lain. Ketika konflik muncul, bahasa kembali dipakai untuk membungkam: “kalau nggak kuat, jangan main medsos.”

Kasus lain yang kerap viral adalah kolom komentar pada berita kriminal atau isu sensitif. Saya sering menemukan ujaran kebencian yang diarahkan pada kelompok tertentu berdasarkan gender, agama, atau latar belakang sosial tanpa dasar yang jelas. Anonimitas membuat penutur merasa aman. Dalam sosiolinguistik, kondisi ini dipahami sebagai melemahnya kontrol sosial yang biasanya hadir dalam komunikasi tatap muka. Ketika identitas disamarkan, tanggung jawab berbahasa ikut mengendur.

Kesantunan berbahasa pun mengalami pergeseran. Bahasa santun sering dianggap tidak tegas atau kurang “menjual”. Sebaliknya, bahasa keras dipersepsikan jujur dan berani. Dalam banyak kasus viral, komentar paling kasar justru mendapat respons terbanyak. Ini menunjukkan adanya perubahan nilai dalam budaya komunikasi digital, di mana visibilitas dan reaksi lebih dihargai daripada etika berbahasa.

Dari sudut pandang sosiolinguistik, bahasa netizen tidak bisa dinilai hanya dari benar atau salah secara gramatikal. Yang lebih penting adalah memahami fungsi sosialnya. Mengapa kata tertentu dipilih? Dalam situasi apa sarkasme digunakan? Dan dampak sosial apa yang ditimbulkan dari ujaran tersebut? Kasus-kasus viral menunjukkan bahwa bahasa di media sosial bukan sekadar ekspresi individual, tetapi bagian dari dinamika sosial yang lebih luas.

Saya melihat bahwa bahasa netizen adalah indikator kesehatan komunikasi publik. Ketika kolom komentar lebih dipenuhi makian daripada argumen, lebih banyak ejekan daripada dialog, itu menandakan adanya krisis empati. Bahasa menjadi alarm sosial yang sering kita abaikan karena terlalu terbiasa.

Tentu, media sosial tidak harus menjadi ruang yang kaku dan steril. Ekspresi emosi adalah bagian dari kemanusiaan. Namun, kebebasan berekspresi seharusnya berjalan beriringan dengan tanggung jawab berbahasa. Sosiolinguistik mengingatkan bahwa setiap kata membawa makna sosial, bahkan ketika ditulis secara anonim.

Saya belajar bahwa memperbaiki komunikasi publik di media sosial tidak cukup hanya dengan aturan atau moderasi. Perubahan harus dimulai dari kesadaran sebagai penutur bahasa. Menyadari bahwa di balik layar ada manusia lain, dengan latar sosial dan pengalaman yang nyata. Bahasa netizen, pada akhirnya, bukan hanya soal apa yang kita tulis, tetapi tentang nilai apa yang kita bangun dalam ruang digital bersama.

Penulis: Akmal, Mahasiswa Universitas Pamulang

Editor: Fuad Parhan, Tim NewsFeed.id