ArtikelPendidikan

Anak Muda Wajib ke Sini! Wisata Edukasi di Museum Pendidikan Surabaya yang Lagi Naik Daun

Avatar photo
211
×

Anak Muda Wajib ke Sini! Wisata Edukasi di Museum Pendidikan Surabaya yang Lagi Naik Daun

Sebarkan artikel ini
Tampak depan Museum Pendidikan Surabaya. (Dok. Wikipedia.org)

NEWSFEED.ID, Surabaya — Apa yang terlintas di pikiran Anda ketika mendengar kata “Museum”? Sejarah? Klasik? Museum acap kali dianggap sebagai wisata yang membosankan oleh generasi muda. Akan tetapi, hal itu tidak berlaku di Museum Pendidikan Surabaya. Ketika semakin banyak anak muda tertarik berkunjung ke museum, sejarah dan budaya Indonesia dapat terlestarikan sebab mereka dapat mengenal dan mengapresiasi langsung artefak-artefak yang ditampilkan di museum. Dari proses mengenal dan apresiasi itu, rasa nasionalisme dalam diri generasi muda dapat tumbuh dengan fondasi yang kuat.

Museum Pendidikan Surabaya merupakan destinasi wisata yang dikelola oleh Pemerintah Kota Surabaya yang beroperasi pada hari Selasa–Minggu pukul 08:00–21:00. Museum terletak di pusat Kota Surabaya, lebih tepatnya di Jalan Genteng Kali No.10 Kelurahan Genteng, Kecamatan Genteng. Lokasinya yang berada di tepi Sungai Kalimas dan satu kawasan dengan Taman Prestasi membuat lokasi museum ini strategis dan dapat diakses oleh kendaraan umum maupun pribadi.

Sesaat setelah sampai di museum, pengunjung akan langsung disuguhkan dengan pemandangan taman yang asri. Taman “mini” tersebut juga memiliki tempat duduk yang dapat digunakan pengunjung untuk saling bercengkrama sambil menikmati keindahan museum. Selain taman, halaman museum ini juga memiliki banyak spot foto yang bagus, tidak heran jika banyak mahasiswa yang melakukan sesi foto wisuda di lingkungan museum ini.

Sebelum memasuki museum, pengunjung harus membeli tiket melalui website tiket wisata surabaya. Museum ini dapat menerima pengunjung hingga 210 orang setiap harinya, bila kuota harian sudah terpenuhi, sistem pemesanan tiket akan otomatis ditutup dan pengunjung diminta memilih jadwal kunjungan di hari lain. Museum ini memiliki tarif yang berbeda untuk setiap pengunjungnya. Pengunjung yang masuk ke kategori umum harus membayar tiket sebesar Rp5.000,00, pengunjung yang merupakan pelajar non-Surabaya dikenai biaya Rp3.000,00, sedangkan pengunjung yang merupakan pelajar Surabaya dibebaskan biayanya.

Bangunan Museum pendidikan Surabaya yang klasik dan penuh sejarah ini termasuk dalam peninggalan kolonial yang berdiri sejak 1920-an, masa akhir Hindia Belanda. Dahulunya, gedung ini digunakan sebagai sekolah Taman Siswa yang merupakan lembaga pendidikan pribumi yang berperan besar dalam pendidikan pada masa itu. Selepas penjajahan, gedung ini sempat terbengkalai sebelum akhirnya diambil alih oleh Pemerintah Kota Surabaya dan dikelola menjadi museum pendidikan, Museum Pendidikan Surabaya ini diresmikan oleh Pemerintah Kota Surabaya pada 25 November 2019, tanggal ini bertepatan dengan Hari Guru Nasional.

Museum ini menampilkan artefak-artefak pendidikan mulai dari masa pra-aksara, masa kerajaan, masa kolonial, hingga masa pascakemerdekaan. Zona Pra-Aksara menampilkan diorama manusia purba yang diyakini merupakan seorang ayah yang sedang mengajarkan anaknya menyalakan api unggun, kegiatan ini menunjukkan bagaimana proses pembelajaran sebelum adanya sekolah.

Kemudian, di Zona Kerajaan terdapat diorama seorang ustadz yang sedang mengajarkan muridnya membaca Al-Quran. Diorama ini menggambarkan bagaimana proses belajar di pesantren, lembaga pendidikan yang umum pada Masa Kerajaan. Zona ini juga menampilkan replika alat tulis tradisional, kitab pelajaran agama dan sastra, serta ilustrasi ruang belajar di keraton dan lembaga keagamaan.

Selanjutnya, terdapat Zona Kolonial yang menampilkan mesin tik, lampu, serta mesin handpress ikonik milik K.H. Ahmad Dahlan yang berfungsi untuk mencetak bahan ajar. Di zona ini juga terdapat sepeda kayuh dan sepeda motor tua yang dulu digunakan guru mengajar. Adapula ruangan simulasi kelas pada Masa Kolonial yang berisi bangku, kursi, serta sabak batu.

Setelah Zona Kolonial, terdapat Zona Pascakemerdekaan yang memamerkan koleksi alat tulis, buku pelajaran lama, ijazah dan rapor ejaan lama, piala penghargaan siswa berprestasi, hingga proyektor OHP yang dulu dipakai di kelas. Tidak lupa, setiap zona ini dilengkapi dengan panel informasi yang berisi tentang penjelasan benda yang terpampang di display.

Di beberapa zona juga terdapat tayangan video pendek serta audio yang menjelaskan sejarah dalam masa tersebut. Selain fasilitas informatif di setiap zonanya, museum ini juga menyediakan pemandu untuk rombongan pelajar maupun mahasiswa. Pemandu inilah yang bertugas menjelaskan koleksi museum serta menjawab pertanyaan pengunjung sehingga proses kunjungan dapat memberikan manfaat yang lebih maksimal lewat sesi belajar interaktif karena berlangsung secara dua arah. Museum juga menjalin kerja sama dengan berbagai sekolah untuk memberikan pendalaman terkait pentingnya mengunjungi museum melalui kegiatan “Museum Goes to Campus”.

Dengan mengunjungi museum, masyarakat dapat meningkatkan jiwa nasionalismenya, hal ini dibuktikan dari penelitian yang dilakukan kepada sekitar 100 mahasiswa Universitas Persada Indonesia YAI. Ditemukan bahwa lebih dari 70% mahasiswa mengalami peningkatan skor nasionalisme ke kategori tinggi setelah mengunjungi museum (Siregar, 2019). Studi lain mengungkapkan bahwa nilai tes sejarah siswa meningkat hingga 20 poin setelah berkunjung ke museum (Nugraha, 2022).

Setelah mengunjungi Museum Pendidikan Surabaya, masyarakat diharapkan mampu menanamkan nilai pancasila dengan kontekstual sebab dari kunjungan ini, masyarakat dapat lebih menghargai jasa pahlawan dalam mengembangkan pendidikan di Indonesia. Selain itu, pengalaman melihat langsung perjalanan pendidikan dari masa ke masa mendorong masyarakat untuk menumbuhkan rasa persatuan dan tanggung jawab untuk menjaga warisan budaya di Indonesia.

Museum Pendidikan Surabaya berperan sebagai destinasi wisata sekaligus tempat untuk belajar sejarah pendidikan di Indonesia. Melalui koleksinya yang lengkap serta penjelasannya yang informatif, museum ini membantu pengunjung untuk memahami usaha serta perjuangan tokoh pendidikan dan menumbuhkan kembali rasa cinta tanah air dan pengamalan nilai- nilai pancasila.

DAFTAR PUSTAKA

  • Binekasri, R. (2023, April 21). Minat ke museum memprihatinkan, ini penyebabnya kata ahli. CNBC Indonesia. Diakses 11 Desember 2025, dari https://www.cnbcindonesia.com
  • DetikJatim. (2024, Mei 15). Museum Pendidikan Surabaya: Menilik sejarah pendidikan di Indonesia. Detik.com. Diakses 11 Desember 2025, dari https://www.detik.com
  • Hein, G. E. (1998). Learning in the museum. London, England: Routledge.
  • Hooper-Greenhill, E. (1994). Museums and their visitors. London, England: Routledge.
  • International Council of Museums. (2022, Agustus 24). ICOM approves a new museum definition. Diakses 11 Desember 2025, dari https://icom.museum
  • Nugraha, B. (2022). Pemanfaatan museum sebagai sumber belajar sejarah di sekolah menengah. Jurnal Pendidikan Sejarah, 7(1), 45–58.
  • Putri, D. (2025, Februari 18). Menjelajahi warisan budaya dan sejarah: Manfaat kunjungan museum bagi siswa SMAN 1 Seyegan. Situs Resmi SMAN 1 Seyegan. Diakses 11 Desember 2025, dari https://sman1seyegan.sch.id
  • Rahmawati, E. (2024). Implementasi pendidikan Pancasila dalam kegiatan kunjungan museum. Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan, 9(3), 210–222.
  • Siregar, A. (2019). Pengaruh kunjungan museum terhadap jiwa nasionalisme mahasiswa Universitas Persada Indonesia YAI. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 10(2), 123–135.

Penulis: Muftianisa Khaliladianti Rahayu, Mahasiswi Universitas Airlangga

Editor: Fuad Parhan, Tim NewsFeed.id